CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Rabu, 30 Maret 2011

39. Bayan Imam Diraja Qatar

BAYAN MAGHRIB  
TANGGUNGJAWAB DAKWAH
Dimulai dengan khutbah masnun yang pernah dibaca Baginda SAW. Termuat didalamnya beberapa firman Allah SWT yang bermaksud diantaranya,
"Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah SWT akan sebenar-benarnya taqwa. Dan janganlah kamu mati kecuali kamu benar-benar menjadi seorang muslim yang menyerah diri kepada Allah."
"Wahai sekalian manusia bertaqwalah kamu kepada Tuhan kamu yang menjadikan kamu kepada satu jiwa. Dan menjadikan daripadanya pasangan kamu, dan daripadanya Allah sebarkan daripada lelaki dan wanita. Dan takutlah kamu kepada Allah yang kamu minta-meminta sesama kamu dengan perantaraan tali silaturahim. Sesungguhnya Allah SWT maha pemerhati keatasmu."
"Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah SWT dan berkatalah perkataan yang betul. Niscaya Allah SWT akan memperbaiki amalan kamu dan Dia akan mengampuni dosa kamu, dan Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia mendapat kejayaan yang besar."
"Wahai orang yang beriman, sahutlah seruan daripada Allah dan Rasul apabila kedua-duanya menyeru kamu bagi kehidupan yang baik. Dan Allah SWT menjadi penghalang bagi hati yakni dia berkuasa diatas hati seseorang hamba, dan takutlah kepada Allah, kepada Azab yang Allah SWT turunkan bahwa ianya bukan sahaja menimpa kepada orang yang melakukan kejahatan, tetapi ianya menimpa menyeluruh kepada semua."
Allah SWT menjadikan kita untuk mengingati Allah dan bersyukur kepada Allah SWT. Tidak ada apa-apa Allah SWT menjadikan mahluq ini kecuali supaya ianya berzikir kepada Allah dan mensyukuri Allah SWT. Lantaran itu Allah SWT berfirman,
"Maka ingatlah Aku, maka niscaya Aku akan mengingatimu. Dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur yakni akan nikmat-nikmatKu."
Di ayat yang lain, Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya mengingati Allah itu Maha besar dan Allah mengetahui apa yang kamu lakukan."
Bahwa apa maksud zikrullah, bahwa Allah mengingati hambaNya sangat besar, sangat agung, cukuplah kemuliaan, cukuplah ketinggian bahwa Allah SWT mengingati kita. Allah ingat kita. Apabila kita mengingati Allah, Allah mengingati kita. Di dalam sepotong hadits qudsi, Nabi SAW bersabda, Allah berfirman,
"Barangsiapa mengingati Daku di dalam dirinya seorang diri, maka Aku akan mengingatinya seorang diri di dalam diriKu. Barangsiapa mengingati Aku di khalayak ramai, maka Aku akan mengingati mereka di hadapan khalayak para malaikat yang lebih baik daripada mereka."
Maka cukuplah kemuliaan apabila seseorang dia menceritakan kebesaran Allah SWT dan majelis ini adalah majelis zikir, maka dia mesti yaqin apabila dia membesarkan Allah, menyebut Allah SWT di khalayak ramai maka dia harus yaqin bahwa Allah SWT sedang menyebutnya, Allah sedang mengingatNya di khayalak para malaikat yang lebih baik daripada kita semua. Oleh karena itu Umar RA pernah berkata, sesungguhnya aku tahu bila Allah SWT mengingati daku. Ditanya kepada beliau," Bila?" Dijawab beliau, "Ketika aku mengingati Allah SWT, ketika itulah Allah SWT mengingatiku karena firman Allah SWT, Maka ingatlah Aku, niscaya Aku ingat akan kamu."
Allah SWT juga ingin meninggikan Baginda SAW. Allah ingin mengangkat nama Baginda SAW. Maka dimana nama Allah disebut, maka disitu disebut nama Baginda SAW. Sehingga Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur'an. Dan Allah SWT menggunakan Fi'il yang berulang-ulang, senantiasa ada pembaharuan. Supaya menunjukkan bahwa sentiasa benda itu berulang-ulang terus bahwa,
"Sesungguhnya Allah dan malaikat berselawat ke atas Nabi. Wahai orang-orang beriman berselawatlah kepada Nabi SAW, dan ucapkanlah selamat."
Dan tuan-tuan yang mulia, setiap kali Nabi SAW disebut di langit, disebut di bumi, diingat di langit, diingat di bumi. Maka apabila didengar nama Nabi SAW, maka kita mesti berselawat kepada Baginda SAW. Karena Baginda SAW bersabda," Bahwa orang yang kedekut atau kikir adalah orang yang disebut namaku dihadapannya tetapi dia tidak berselawat kepadaku." Apabila kita berselawat kepada Nabi SAW Allah SWT akan mengantar selawatnya kepada kita sepuluh kali. Selawat Allah SWT adalah rahmat. Dengan kita beselawat kepada Nabi SAW kita akan mendapat 10 rahmat daripada Allah SWT. Maka di dalam sepotong hadits yang lain, Nabi SAW bersabda,"Hinalah orang yang disebut namaku dihadapannya tetapi dia tidak berselawat kepadaku. Maka tuan-tuan yang mulia, janganlah kita menjadi orang-orang yang bakhil, orang-orang yang kedekut, sehingga disebut nama Nabi SAW walaupun seribu kali telah disebut dihadapan kita, kita jangan mengatakan kita sudah berselawat padanya. Bahkan walaupun 1000 kali kita berselawat lagi dan lagi, setiap salawat kepada Nabi SAW Allah SWT akan memberikan 10 rahmat kepada kita. Allah SWT ingin memuliakan Baginda SAW. Maka setiap kali adzan dilaungkan dimana-mana, begitu selesai satu adzan dilaungkan, dikampung yang berdekatan akan mula adzannya, habis saja sana, negara yang bersebelahan akan mula azannya, terus 24 jam sentiasa, disebut nama Allah SWT, disebut nama Nabi SAW. Bukan setakad itu saja, sejak mana Baginda SAW diutuskan sampai hari kiamat terus nama Allah dan nama Rasulullah disebut. Tidak shah iman seseorang jika tidak disebut nama Nabi SAW. Tidak shah Islam seseorang jika tidak disebut nama Nabi SAW. Dan Allah SWT meninggikan sebutan Nabi SAW bahwa Allah berfirman,
"Bahwasanya ianya adalah sebutan bagimu dan bagi kaummu yaitu orang yang beriman."
Semua untuk nabi SAW. Dan kamu akan ditanya Allah SWT. Dalam surat Al-Isra, Allah SWT mengangkat nama kamu meninggikan nama kamu. Orang beriman kepada Allah SWT, orang yang menyeru kepada Allah menyeru kepada Rasulullah SAW Allah muliakan mereka, Allah angkat mereka. Lantaran itu Nabi SAW telah menasehatkan Muadz bin Jabal ra . Muaz ra. adalah seorang sahabat yang telah masuk Islam umurnya tidak melampaui 18 tahun. Dan dia telah mati syahid di Yordan, umurnya 34 tahun. Makna dia 16 tahun bersama Baginda SAW. Kubur dia di sebelah kubur Abu Ubaidah bin Jarah ra. Nabi SAW berata, "Abu Ubaidah (ra) adalah orang yang paling amanah dalam umat ini." Maka mengenai Muaz bin Jabbal ra, baginda SAW pernah bersabda,"Umat aku yang paling bijak dan paling alim mengenai halal dan haram adalah Muaz bin Jabbal (ra)."
Umar ra pernah berkata,"Kalaulah aku melantik Muaz bin Jabal (ra) sebagai penggantiku maka kalau Allah SWT tanyaku mengapa kamu melantik dia sebagai penggantimu, maka sudah tentu aku akan jawab kepada Allah SWT karena aku dengar Rasulullah SAW bersabda orang yang paling alim di kalangan umat ini dengan perkara halal dan haram adalah Muadz bin jabal (ra)."
Kalau kita lihat mengapa dia telah mencapai kedudukan begitu tinggi. Dari mana, dari universiti mana dia telah keluar, dari mana dia belajar. Masa 16 tahun, dan begitu muda dia meninggal dunia, tetapi dia telah mencapai ketinggian ilmu agama. Dan sabda Nabi SAW, apabila Allah SWT mengumpulkan para alim ulama di akherat nanti maka Muadz bin Jabbal ra. tiba-tiba meluruh, melantun macam seketul batu terus di hadapan mereka semua. Maka mengenai perkara inilah kita mau melihat macam mana Muadz bin Jabbal ra. dalam masa begitu singkat telah mencapai ilmu yang begitu tinggi. Dan Rasulullah SAW telah menasehatkan Muadz bin Jabbal ra. bahwa janganlah lupa tiap-tiap lepas sembahyang maka berdoalah kepada Allah SWT, Allahumma ainni alla dzikrika, wa syukrika, wa husni ibadatika. Ya Allah bantulah aku untuk mengingatiMu, untuk bersyukur kepadaMu, dan untuk memperelokkan ibadah-ibadahku."
Sekali Abdullah bin Mas'ud ra. telah berkata, "Maka adalah dia Muadz bin Jabbal (ra) dia satu ummat (dia seorang, tetapi seperti ummat) yang berdiri ibadah kepada Allah SWT, menyimpang dari semua agama, ikhlas kepada Islam, dan tidakklah dia dikalangan orang-orang yang menyekutukan Allah SWT." Dan ayat ini ada di Al-Qur'an, Allah firmankan itu kepada Ibrahim AS. Kemudian sahabat menegur, "Itu adalah sesungguhnya Ibrahim AS. Kemudian Abdullah ra. menjawab, "Sesungguhnya Muadz (ra) adalah satu ummat yang berdiri ibadah…..(hingga selesai). Lantas Sahabat ini menegur kembali, "Sesungguhnya itu Ibrahim AS." Dan Abdullah bin Mas'ud ra. berkata sekali lagi, "Sesungguhnya Muadz (ra) satu ummat,…(hingga selesai). Kemudian kali ketiga sahabat yang menegur itu bertanya, "Kenapa?" Kata Abdullah bin Mas'ud ra.,"Telah aku dengar Nabi SAW bersabda sesungguhnya Muadz (ra) adalah satu ummat yang berdiri ibadah kepada Allah SWT, menyimpang dari semua agama, Ikhlas kepada agama Islam, dan tidaklah dia di kalangan orang-orang yang menyekutukan Allah SWT, "Nabi SAW bersabda, "Dia seorang tapi dia sebagai ummat."
Maka tuan-tuan yang mulia, bagaimana Muadz ra. mencapai derajat ketinggian di sisi Allah SWT? Karena dia senantiasa berada di atas petunjuk cara Rasulullah SAW. Maka kalau kita juga inginkan ketinggian seperti Muadz bin jabbal ra, maka tidak dapat tidak, kita mesti berada di jalan yang telah ditunjukkan oleh Nabi SAW. Maka apabila kita menyeru kepada Allah SWT, menyeru kepada Baginda SAW dengan cara yang telah ditunjukkan Baginda SAW walaupun anda seorang, maka kita akan dikira sebagai ummat seluruhnya.
Lantaran itu ummat ini terbagi kepada dua. Pertama, ummat dakwah yaitu ummat yang mereka perlu didakwahkan untuk menerima Allah dan Rasul. Allah sebagai Rabb mereka, dan Rasul sebagai Nabi mereka. Kedua, umat istijabah, ummat yang telah menyahut seruan Allah dan Rasul-Nya. Mereka menjadi orang-orang Islam. Ummat ini kedua-duanya telah datang daripada seruan Allah SWT, "Wahai sekalian ummat, (termasuk ummat yang telah menyahut seruan Allah dan Rasul menjadi orang-orang islam, dan ummat yang belum lagi menerima seruan Allah dan Rasul, orang-orang kafir, musyrik, orang yang menyembah berhala, maka kamu semua ummat), wahai ummat Muhammad SAW (dikalangan ramai-ramai ummat tadi), maka kamu jadilah satu ummat yang khusus. Dan hendaklah ada di antara kamu wahai ummat Muhammad SAW (yang termasuk orang beriman, orang tidak beriman, penyembah berhala) satu ummat yang menyeru kepada kebajikan, mencegah kepada munkar, dan mereka ialah orang-orang yang berjaya."Maka didalam perkara ini, di kalangan ummat-ummat yang ramai, di kalangan ummat istijabah, iaitu orang yang telah menyahut seruan Allah dan RasulNya menjadi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kamu mesti timbul satu ummat walaupun satu orang, yang kalau kita menyeru manusia kepada Allah dan Rasul, maka kita adalah satu ummat dan akan mendapat ganjaran seluruhnya. Karena orang yang menyeru kepada Allah dan Rasul dengan cara Rasululllah SAW walaupun dia seorang dia adalah ummat.
Maka menjadi tanggungjawab kepada ummat istijabah, bagi mereka orang-orang mukmin perlu juga dilakukan dakwah di kalangan mereka sendiri untuk mewujudkan satu ummat yang lain, satu ummat yang berusaha untuk menyeru kepada umat-umat dakwah. Maka itu Allah SWT telah menyebut di dalam Al-Qur'an,
"Wahai orang-orang yang telah beriman, telah menyahut seruan dan kamu telah berkata Laa Ilahaa ilallah. Wahai orang beriman, kamu yang telah naik saksi bahwa Muhammad SAW adalah rasul. Mereka orang yang beriman dengan Allah, beriman dengan Rasul, telah menyahut seruan Allah dan RasulNya, Allah sambut lagi sekali dengan didakwahkan sesama orang yang telah beriman. Apabila Allah dan Rasul menyeru kamu supaya untuk menghidupkan kamu satu kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat, ketahuilah wahai hamba-hamba yang beribadah, beriman, yang telah mengucapkan kalimah syahadah, kamu kena jaga, kamu kena takut karena seseorang itu walaupun dia bersholat, walaupun dia membaca Al-Qur'an, walaupun dia beriman, karena hati seseorang itu diantara dua jari arrahmat." Allah boleh menukarkan bagaimana Dia kehendaki. Allah boleh alih bagaimana Dia kehendaki seperti datang dalam hadits Nabi SAW, "Berpagi-pagi seorang lelaki seorang mukmin, berpetang-petang dia menjadi orang kafir. Dan berpetang-petang dia menjadi orang mukmin, bepagi-pagi dia menjadi orang kafir. Dan dia telah menjual agamanya dengan dunia yang murah."
Jadi walaupun kamu beribadah, membaca Al-Qur'an, walaupun kamu seorang mukmin, tetapi harus kamu takut, harus kamu jaga, sesungguhnya Allah SWT mengontrol, mengawal hati manusia. Maka Allah SWT boleh alihkan bagaimana yang Dia kehendaki. Bahwasanya ummat ini, manusia yang kufur terhadap Allah SWT ataupun yang beriman tadi akhir kesudahannya dia akan dihimpun dihadapan Allah SWT dan bertaqwalah kamu kepada Allah, takutlah kamu kepada Allah akan satu fitnah, satu ujian, satu musibah, azab yang akan datang kepada kamu, yang bukan akan mengena kepada orang yang zalim, orang yang melanggar perintah Allah SWT semata-mata, bahkan kalau datang azab ia akan datang kepada semua orang. Dan ketahuilah bahwasanya Allah SWT sangat-sangat keras azabnya.
Maka seseorang walaupun dia baca Alqur'an belum tentu lagi kejayaan dia. Walau dia bersholat belum tentu lagi kejayaan dia. Tetapi apabila seseorang berusaha mewujudkan dakwah, menyeru satu sama lain, maka semoga Allah SWT memberi kejayaan kepadamu. (Sekarang kita akan wudhu terlebih dahulu untuk sholat isya..).
Sesungguhnya ini adalah saat yang berkah. Allah SWT kabulkan doa selepas adzan dan juga malaikat-malaikat yang ada di sekeliling kita, malaikat-malaikat yang tindih bertindih diantara satu sama lain sampai ke langit dunia, sebagaimana dikhabarkan Rasulullah SAW, selain daripada malaikat-malaikat yang hadir bersama kita ketika kita shalat, selain dari malaikat yang mencatit amalan kita, dan ini adalah malaikat yang Allah khaskan untuk mencari majelis-majelis zikir, majelis-majelis membesarkan Allah SWT, ianya datang. Maka apabila akhir majelis nanti, malaikat akan balik pada Allah SWT. Allah mengetahui segala-galanya, Ia akan bertanya kepada mereka, apa yang hambaKu buat. Maka Malaikat akan berikan kepada Allah SWT, bahwa mereka itu memujiMu, mensyukuriMu, mereka mengagungkanMu, membesarkanMu. Apa yang mereka minta? Kata malaikat, "mereka minta syurga." Mereka nampakah surga? Tidak. Kalau nampak macam mana? Lebih lagi keghairahan mereka, lebih lagi usaha mereka untuk mendapatkannya. Dariapa mereka minta dilindungi? Kata malaikat, "dari neraka." Apa pernah mereka melihat neraka? Belum. Bagaimana jika mereka melihatnya? Mereka lebih lagi akan usaha untuk menjauhkan diri mereka, usaha untuk menjauhkan diri mereka dari pada neraka. Maka Allah SWT telah berkata kepada para malaikat, "Aku persaksikan kamu semuanya, aku beri apa yang mereka minta, dan aku jauhkan apa yang mereka minta dijauhkan. Dan aku persakiskan kamu hai malaikat, Aku ampunkan semua yng ada di majlis itu." Lalu malaikat kata, "Ya Allah ada satu orang bukan dari kalangan mereka. Dia datang untuk satu tujuan atau keperluan yang lain." Maka itupun Allah kata, "Aku ampunkan dia karena itu adalah satu majelis yang tidak akan terhidnar dari keberkatan seorangpun yang menyertai mereka. Lalu malaikat berkata lagi, "Wahai Allah, ada seseorang yang banyak dosanya. Dia datang lalu dia duduk." Maka itupun Allah SWT kata, "Aku ampunkan dosa-dosa dia karena dia berada dalam satu kaum dimana tidak ada seorangpun akan terhindar dari keberkatannya." Maka Allah SWT akan beri ketika akhir majelis nanti.
Untuk itulah kita sabarkan diri kita sampai akhir majelis dan mendapat hadiah ini dari Allah SWT.
Dan tanda-tanda doa makbul adalah doa musafir. Kalau orang biasa saja, bukan keluar di jalan Allah SWT, sebagai musafir, Allah SWT terima doa dia, lebih-lebih lagi orang yang keluar musafir karena agama Allah SWT, keluar di jalan Allah SWT. Maka lantaran itu waktu-waktu penerimaan doa seperti ini janganlah kita sia-siakan. Bahwa mereka yang ada niat untuk keluar di jalan Allah SWT maka mesti dia doa di dalam hati supaya keluar di jalan Allah SWT mau belajar agama, keluar di jalan Allah SWT mau jadi satu ummat seperti Allah SWT perintahkan dalam al-Qur'an, kita mau keluar di jalan Allah SWT kita mau belajar usaha agama, mau belajar dakwah, mau belajar khidmat, supaya Allah SWT beri hikmah kepada kita. Maka kita mesti gunakan peluang yang mulia ini untuk keluar di jalan Allah SWT.
Kalau kita keluar di jalan Allah SWT sekali-kali Allah tidak akan mensia-siakan kita, Allah tidak akan merugikan kita, sepertimana Allah SWT tidak mempersia-siakan Hajar r.ha., dan bayinya ismail AS. Apabila Ibrahim AS telah menerima perintah Allah SWT, untuk meninggalkan isterinya yang tercinta, anaknya yang tersayang di satu lembah yang Allah SWT sifatkan, suatu lembah yang tidak ada asbab-asbab kehidupan, tidak ada tumbuhan, lantaran tidak ada air. Hanya ada asbab kematian dan kebinasaan. Tetapi apabila menunaikan perintah Allah SWT, maka mereka yakin bahwa Allah SWT sekali-kali tidak akan mensia-siakan mereka. Apabila Ibrahim AS meninggalkan isteri dan anaknya yang tersayang, dia tidak lagi menoleh ke belakang, takut bahwa cintanya kepada isteri, kasihnya terhadap anak akan membuat dia berbolak-balik dalam menunaikan perintah Allah SWT sehingga Hajar r.ha bertanya, "Menganpa kami ditinggalkan disini?" Dia tidak menjawab. Kali kedua, dia tidak juga menjawab. Kali ketiga isterinya kata, "Apakah Allah memerintahkan kamu untuk buat demikian?" Maka itupun Ibrahim AS tidak menjawab. Hanya menganggukkan kepala berkata iya. Maka apabila mendengar bahwa ini adalah perintah Allah SWT, apa kata Hajar? "Kalau begitu sekali-kali Allah tidak akan mempersia-siakan kami."
Apabila kita buat usaha agama, keluar di jalan Allah SWT, sekali-kali Allah tidak akan mempersia-siakan kita. Tetapi siapa yang ada keyakinan yang rusak, bahwa keluar di jalan Allah SWT akan merugikan, akan dipersia-siakan, maka ini adalah satu iktikad yang rusak, satu yakin yang rusak, yang perlu dikikis dari hati kita, bahwa Allah SWT sekali-kali tidak akan mempersia-siakan orang yang keluar di jalan Allah SWT buat usaha agama.
Siapa sedia, InsyaAllah?
Mengenai Umat dakwah dan umat istijabah tadi, maka tanggung jawab umat dakwah ialah atas bahu umat istijabah. Tetapi di kalangan ummat istijabah juga perlu wujud satu kumpulan, satu kaum yang menyeru mereka kepada perintah Allah SWT yang mereka tidak sempurnakan. Karena ada diantara orang-orang mukmin, orang-orang Islam yang tidak menunaikan sholat, menunaikan zakat, dan rukun-rukun Islam yang lain dan amalan-amalan Islam yang lain. Maka menjadi tanggungjawab di kalangan umat istijabah itu sendiri, ummat Islam itu sendiri untuk menyeru di kalangan mereka, supaya mereka sama-sama bangun untuk melakukan amalan. Setiap umat ini buat kerja yang dipertanggungjawabkan kepada mereka iaitu menyeru kepada makruf dan mencegah terhadap munkar.
Sepertimana Bani Israel, mereka dipertanggungjawabkan untuk menyeru kepada makruf dan mencegah kepada munkar, dan mereka meninggalkan tanggung jawab mereka, lantaran itu Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur'an yang mahfumnya,
"Telah dilaknat Bani israel atas lisan, atas lidah Nabi Daud AS dan lidah Nabi Isa AS, karena mereka telah memaksiati Allah SWT dan mereka telah melampaui batas. Dan karena mereka tidak menyeru kepada makruf dan tidak mencegah daripada munkar, dan buruk sekali apa yang mereka lakukan."
Maka Nabi SAW bersabda, "Sungguh-sungguh kamu kena menyeru kepada makruf dan sungguh-sungguh kamu kena mencegah dari munkar bahwa kalau tidak, cepat sekali Allah SWT akan turunkan Azab. Dan apabila turun azab kamu berdoa dan Allah SWT tidak akan mengabulkan doa kamu." Lantaran itu hari ini rata-rata orang berkumpul di Arafah berdoa, "Ya Allah bantulah orang Islam, muliakanlah orang Islam." Tetapi tidak nampak bantuan Allah SWT secara menyeluruh, dan orang Islam makin hina dan makin hina. Karena apa? Karena umat ini tidak menunaikan syarat Allah SWT untuk mendapatkan bantuan Allah SWT. Apa syarat Allah SWT? Jika kamu membantu agama Allah SWT, maka Allah SWT akan membantu kamu. Kita ini sekarang ramai, tetapi keadaan kita kedudukan kita seperti sampah yang berada di permukaan air bah lantaran dosa kita.
Kita sekarang ini mesti niat, bertobat kepada Allah SWT daripada hati kita sungguh-sungguh. Dosa apa? Dosa meninggalkan dakwah. Kita telah menzalimi diri kita sendiri karena meninggalkan dakwah. Kisah Yunus AS, apabila dia mendakwah kaum dia dan apabila dia telah putus asa dengan kaum dia karena mereka tidak beriman, maka dia telah meninggalkan dakwah terhadap mereka. Maka balasan daripada Allah SWT bahwa ikan telah menelannya. Maka apabila dia telah berada di perut ikan maka dia faham bahwa meninggalkan dakwah itu satu kezaliman. Lantaran itu dalam doa, "Laa ilahaa illa anta, subhanaka inni kuntu minal zalimin. Maha suci Allah tidak ada Tuhan melainkan Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."
Meninggalkan dakwah adalah satu kezaliman. Sekarang tuan-tuan yang mulia, kita menzalimi diri kita sendiri dan diri orang lain. Lantaran itu kita mesti bertobat kepada Allah SWT. Dan kita berdoa kepada Allah SWT, semoga Allah SWT pilih kita keluar di jalan Allah SWT. Karena tanpa taufik dari Allah SWT seorangpun tak boleh keluar ke jalan Allah. Lantaran itu kita berdoa bersungguh-sungguh supaya Allah pilih kita . Janganlah Allah campakkan kita sebagaimana sampah dicampak ke tempat sampah. Kita minta supaya Allah pilih kita. Dunia, Allah beri kepada semua orang, kepada orang yang Dia suka dan Dia tak suka. Tetapi agama hanya Allah beri kepada orang yang Allah suka. Kita yang berhajat, Allah tidak berhajat kepada kita.
Oleh itu selepas doa kita jumpa orang, taskyil. Saya yang berhajat, saya kena keluar di jalan Allah SWT. Mengapa kita perlu dimotivasi, mengapa kita perlu diberi semangat. Padahal untuk keduniaan kita, tiada siapapun beri semangat kepada kita. Tetapi kepada akherat kenapa pula kita mesti beri perangsang.
Bayan Maghrib Imam Diraja Qatar, Mutarjim Ustadz. Abdul Hamid
Masjid Sri Petaling, Apri 2001


Sabtu, 19 Maret 2011

38. Bayan Mufti Muhammad Luthfi Al Banjari


BAYAN MUSYAWARAH INDONESIA
MEMBANTU AGAMA ALLAH DAN MEMBANTU UMMAT

Ada dua kiat menghadirkan Nusrotullah karena tidak ada satupun yang bisa kita selesaikan tanpa pertolongan Allah SWT. Bahkan Nabi SAW menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak dzikir bacaan “La Haula Wala Quwwata Illa Billah” ( tidak ada kekuatan selain kekuatan Allah). Ini maksudnya apa ? Maksudnya adalah tidak ada satu kekuatan kita untuk melakukan ketaatan ataupun menghindari kemaksiatan selain dari pertolongan Allah.Begitupula kita sebagai hamba yang sangat berhajat kepada pertolongan Allah diwajibkan atas kita membaca doa sebanyak 17 kali dalam satu hari “Iyyakana Budu wa Iyyaka nashta’in” (Kepadamulah aku menyembah dan memohon pertolongan).
Allah menjanjikan kepada siapa Nusrotullan / pertolongan Allah akan diberi :
1. Firman Allah SWT : Intansurrulloha yansurkum : “Barangsiapa membantu agama Allah pasti Allah akan membantu kalian”
2. Sabda Nabi SAW : Wallahu fi ainil abdi makana abduhu fi aunil akhi : “Allah akan membantu seorang hamba selama hambanya membantu saudaranya tersebut.”
Ada 2 kerja yang bisa mendatangkan pertolongan Allah tersebut :
1. Membantu Agama Allah
2. Membantu Saudara Kita
Waktu Ijtima di Pakistan, datanglah seorang pemain cricket yang terkenal diantara negara2 commonwealth (jajahan ingris), namanya Imron. Pemain kaya karena hasil olah raganya. Imran ini pergi menghadap Maulana Saad, sampai akhirnya ditasykil oleh Maulana Saad untuk pergi di jalan Allah. Namun si pemain cricket ini mengatakan bahwa dia tidak punya waktu dikarenakan kesibukannya. Sebaliknya dia mengatakan bahwa walaupun dia tidak mempunyai waktu tapi dia sudah banyak menyisihkan hartanya di sedekahkan untuk pembangunan mesjid, madrasah, dan panti asuhan yatim piatu, dsb. Jadi dia merasa harta yang dia dapatkan sudah dia sisihkan untuk kebaikan umat islam. Lalu apa jawabnya Maulana Saad :
“Wahai Imron kamu sudah berbuat membantu umat islam tapi kamu belum membantu agama islam.”
Ini beda antara membantu ummat islam dan membantu agama islam , contohnya :
1.    Panti Asuhan Yatim Piatu ini dibangun untuk memelihara ummat islam
2.    Mesjid dibuat bagus2, pasang kipas, kasih karpet ini agar umat islam nyaman ibadahnya. Padahal Masjid Nabi SAW sendiri cuman terbuat dari pelepah kurma dan pasir tidak ada kipas dan karpet. Sebenarnya tanpa mesjidpun kita bisa sholat. Di Sudan mesjid cuman dipatok dengan batu. Untuk apa ada mesjid ini untuk Ummat islam.
3. Madrasah dibangun agar bisa memberi kenyamanan bagi ummat islam untuk belajar.
Dijaman Nabi SAW mereka belajar dibawah-bahan pohon tidak ada madrasah di jaman Nabi SAW.
Inilah yang menjadi pertanyaan bagi Maulana Saad :
“Kamu memang sudah membantu ummat islam namun apa yang sudah kamu kerjakan untuk agama islam ?”
Mendapatkan pertanyaan seperti ini si Imron ini terkejut, karena baru kali ini ada ulama yang bertanya seperti itu. Sekarang banyak orang yang sudah merasa membantu agama islam padahal belum, ini dikarenakan yang mereka lakukan adalah untuk membantu ummat islam, bukan agama islam. Kita tidak boleh menafikan apa yang orang sudah lakukan untuk ummat islam, karena semuanya juga berpahala dilakukan. Dari membangun mesjid, madrasah, panti asuhan, semuanya ini mendatangkan pahala.
Namun Janji Allah adalah “Barangsiapa membantu agama Allah maka Allah akan bantu dia” Janji Allah yang pertama ini adalah bagi yang membantu agama Allah baru Allah akan bantu kita. Bagaimana membantu agama Allah ini adalah dengan dakwah yaitu berangkat 3 hari, 40 hari, dan 4 bulan fissabillillah, dengan harta dan diri sendiri.
Kita berkumpul disini dari seluruh propinsi untuk memikirkan kepentingan dakwah atau agama. Kita berkumpul disini tidak untuk bermusyawarah memikirkan bagaimana membangun mesjid, ataupun membangun madrasah, ataupun membangun panti asuhan, ataupun kita angkat senjata untuk membantu temen kita berperang disana, tidak ini bukan tujuan kita bermusyawarah disini. Itu nanti musyawarah lain. Tapi yang kita pikirkan disini adalah membantu agama Allah yaitu bagaimana agama wujud, agama dapat tersebar, dan rombongan-rombongan dakwah dapat diberangkatkan.
Untuk memahami ini jangankan kita diantara para sahabatpun juga terjadi perbedaan yang cukup menyolok untuk memahami perkara ini. Terjadi perbedaan yang keras antara satu orang sahabat melawan argument seluruh sahabat. Apalagi kita-kita ini yang berusaha untuk memahami. Menjelang Nabi SAW meninggal dunia satu hari sebelumnya Nabi SAW memberikan bayan hidayah kepada rombongan Usamah bin Zaid RA untuk menghadapi tentara Romawi yang akan menyerang kota Madinah. Berangkat petang itu juga, sebelumnya berkemah di tempat namanya al jurk. Namun keesokan harinya Nabi SAW wafat. Atas permintaan Ummu Aiman, ibu daripada Usamah, maka rombongan di tarik balik untuk menghadiri pemakaman Nabi SAW. Setelah Khalifah baru diangkat 3 hari setelah Nabi SAW meninggal, terdengar kabar bahwa :
1. Pasukan Romawi di perbatasan sudah siap untuk menyerang
2. Nabi Palsu dengan bala tentaranya 40.000 orang juga akan menyerang Madinah.
3. Orang Munafiq mulai menentang kebijakan2 yang ada
4. Orang yahudi mulai menghasut di dalam kota Madinah
5. Munculnya banyak orang murtad sebanyak 100.000 orang (padahal ulama2 besar dan sahabat2 masih ada)
6. Orang tidak mau membayar zakat
Apa keputusan Abu Bakar RA sebagai khalifah baru yaitu :
1. Rombongan Usamah RA segera diberangkatkan untuk menghadapi Romawi
2. Menyiapkan Rombongan Khalid bin walid dan Wahsyi untuk menghadapi Nabi palsu.
3. Memerintahkan Umar RA membawa rombongan bergerak sekeliling Madinah
Sehingga yang tertinggal hanya Abu Bakar RA sendiri di Madinah tanpa penjagaan. Para sahabat bingung, karena kok aneh betul ini caranya. Pemikiran para sahabat RA, kalau madinah kosong, nanti bisa dibunuh istri2 Nabi SAW, bayi2 juga juga bisa dibunuh, serigala2 yang biasa datang di malam hari bisa memakan bangkai2 mereka nanti. Maka mereka semua tidak paham perintah amirul mukminin, di otak mereka kita harus mempertahankan madinah bukan membahayakannya. Tapi apa kata Abu Bakar RA, “Tidak, saya tidak akan merubah daripada perintah Rasullullah SAW, Usamah tetap harus berangkat.” Inilah perbedaan yang terjadi diantara sahabat RA. Mayoritas sahabat RA ini yakin dengan hidupnya umat islam ini yaitu ummatnya dijaga, istri2 Nabi SAW dijaga, bayi2 penerus generasi dijaga, maka islam akan mudah dikembangkan dan islam pasti akan terpelihara.
Tapi Abu Bakar RA justru pemikirannya berbeda. Abu Bakar RA berkeyakinan jika Islam ini di jaga maka ummat islam akan terjaga, tetapi para Sahabat RA berpikir jika umat islam dijaga maka islam akan terpelihara.
Note dari Penulis :
Ketika itu yang orang-orang fikirkan adalah keselamatan orang-orang islamnya, padahal yang harus dirisaukan adalah bagaimana menyelamatkan agamanya terlebih dahulu. Begitupula yang dilakukan Nabi SAW ketika perang Badr, bahkan sampai Nabi SAW berdoa untuk kemenangan karena jika umat islam hancur di peperangan Badr ini maka habislah islam dari muka bumi. Inilah yang difikirkan Abu Bakar RA yaitu mengirimkan seluruh rombongan untuk menyelamatkan islam. Inilah perbedaan fikir yang mencolok antara satu orang sahabat ini melawan fikir sahabat-sahabat yang lain. Disini ada perbedaan pendapat diantara sahabat yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semuanya.
Abu Bakar RA menyelesaikan masalah dengan menggunakan 2 prinsip :
1. Prinsip Taqwa :
“Saya tidak rela agama berkurang di jaman kekhalifahan saya ini walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat di leher hewan qurban.”
Takwa ini maksudnya adalah Sempurna Amal. Jadi atas dasar prinsip ini, Abu Bakar RA tidak rela dijamannya agama ini berkurang sedikitpun walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat leher hewan korban. Fikirnya Abu Bakar RA ini adalah bagaimana agama dapat sempurna diamalkan oleh umat islam ketika itu. Inilah prinsip yang digunakan untuk menghadapi orang-orang islam yang tidak mau membayar zakat. Jadi mereka diancam akan diberantas jika mereka tidak mau membayar zakat.
2. Prinsip Tawakkal :
“Keluarkan semua laki-laki untuk pergi di jalan Allah. Nanti biar Allah yang menjaga Ummul mukminin, keluarga nabi,bayi-bayi, dan wanita-wanita di madinah.”
Abu Bakar RA lebih rela melihat keluarga Nabi dalam bahaya, dibanding harus melihat agama dalam bahaya. Jadi bagi Abu Bakar RA, derajat Agama ini lebih utama dibanding keluarga Nabi SAW dan ummat islam itu sendiri. Ini sama dengan percakapan Nabi SAW dengan jibril. Ketika itu Jibril AS bertanya kepada Nabi Saw,”wahai Muhammad lebih mulia mana aku atau dirimu ?” Nabi Muhammad Saw menjawab, “Lebih mulia aku karena engkau diutus untuk aku.” Benar kata jibril, lalu jibril bertanya lagi, “Lebih mulia mana engkau atau agama islam ?”, Nabi Saw menjawab, “Lebih mulia islam, karena aku ditus untuk islam.” Agama lebih penting untuk diselamatkan dibandingkan ummat itu sendiri. Abu Bakar RA, mengirimkan semua laki-laki keluar dijalan Allah dan berserah diri kepada Allah atas keadaan di Madinah inilah Tawakkalnya Abu Bakar RA. Prinsip ini yang digunakan untuk menghadapi orang murtad, nabi palsu, dan musuh islam yang mau menyerang madinah dari luar.
Bahkan Umar RA yang terkenal pemberani karena perbedaan pendapat ini, dimarahi oleh Abu Bakar RA. “Wahai Umar RA, kenapa kamu menjadi seorang pemberani seperti ketika masih kafir dan sekarang setelah dalam islam kamu menjadi seperti seorang pengecut.” Maka digebuk umar oleh Abu Bakar RA. Jika Umar RA seorang pemberani berpikir seperti seorang pengecut bagaimana jadinya dengan yang lain, akan makin banyak pengecut2 yang lain.
Note Mubayin :
Percuma jadi karkun, sebelum jadi karkun kelihatan berani, tapi setelah jadi karkun lebih banyak pembenarannya : “Kita harus hikmah” katanya. Ini pengecut namanya.
Marah ketika itu Abu Bakar RA melihat Umar “Apa kamu ini umar pemberani dijaman Jahiliah tetapi pengecut dijaman Islam”. Jika Umar seperti ini bagaimana sahabat2 RA yang lain menyikapinya. Abu Bakar RA tidak ingin Umar RA menjadi seorang pengecut. Digampar ketika itu Umar RA oleh Abu Bakar RA. Namun karena tempelengan Abu Bakar RA ini berdasarkan Taqwa, tiba-tiba terhenyak Umar RA seperti orang baru terjaga dari mimpi. Umar RA dari tempelengan tersebut seakan-akan melihat cahaya, Umar tersentak dan berkata,“benar engkau wahai Abu Bakar”, langsung pergi dia dengan rombongannya.
Ketika Islam dijaga, maka pertolongan Allah akan datang :
1.    Pasukan Romawi mengundurkan diri
2.    Nabi Palsu bisa dibunuh oleh wahsyi ( dengan lembing yg sama membunuh paman Nabi SAW) ketika itu Wahsyi sujud syukur karena bisa membayar dosa dengan lembing yang sama.
3.    Begitulah Wahsyi dengan kebanggaan dapat membayar dengan lembing yang sama membunuh orang yang paling Nabi SAW cintai yaitu Hamzah RA, dia juga membunuh orang yang dibenci Nabi SAW yaitu Nabi Palsu, Usamah Al Kahzab laknatullah alaih. Maka kita juga harus seperti itu, dulu sebelum jadi karkun suka main judi dan mabuk-mabukan, maka setelah jadi karkun kita datang ke tempat yang sama ajak teman-teman yang dulu kepada Allah. Kita harus berani dan dan bangga seperti wahsyi menebus kesalahannya yang dulu. Jangan seperti orang yang dulu berani sebelum ikut dakwah, kelahi dimana-mana buat kebathilan, sekarang setelah jadi karkun malah loyo alasannya “Hikmah”. Ini percuma jadi karkun.
Jadi ketika Pasukan Usamah berangkat untuk menghadang, rombongan Khalid dan Wahsyi juga berangkat, lalu rombongan Umar RA keliling Madinah, apa yang terjadi ? pasukan Romawi ketakutan, mereka berpikir andaikata sedemikian banyak rombongan yang diberangkatkan berarti yang didalam kota madinah lebih banyak lagi. Akhirnya pasukan Romawi tidak berani menyerang Madinah.
Catatan Penulis :
Disinilah terdapat 2 perbedaan pemikiran dan menyangkut kepada masalah keimanan. Dimana Abu Bakar RA yakin jika semua pergi di jalan Allah, maka nanti Allah akan selesaikan semua masalah : orang murtad, nabi palsu, yang tidak mau bayar zakat, dan pasukan romawi yang sudah siap menyerang. Hanya dalam waktu tempo 3 hari saja setelah semua pergi di jalan Allah akhirnya masalah terselesaikan : Madinah tetap aman, 100.000 orang murtad masuk islam lagi, orang membayar zakat lagi, Nabi palsu dapat ditumpas, dan Pasukan Romawi mundur. Jadi risaunya Abu Bakar RA ini adalah Islamnya atau Agamanya dulu, bukan orang-orang Islamnya. Hari ini ada pemikiran seperti yang terjadi ketika sahabat berbeda pendapat dahulu. Sekarang kebanyakan kita ini risaunya adalah orang-orang islamnya, seperti orang islam ada yang dibunuh, diperkosa, diperangi, hak-haknya dirampas, kekurangan makan, miskin keadaannya, pengungsi-pengungsi, ini boleh saja. Tetapi seharusnya yang lebih penting lagi adalah risau atas islamnya. Akibat islamnya tidak dijaga, sehingga Allah tidak menjaga ummat islam. Ini karena islam itu sendiri sudah diacuhkan oleh orang islam. Kita lihat hari ini orang islam kebanyakan tidak sholat, mesjid kosong. Sholat berjamaah di masjid sudah tidak diacuhkan oleh umat saati ini. Lalu sunnah-sunnah Rasullullah SAW sudah ditinggalkan oleh orang islam, bahkan dianggap aneh bagi yang mengamalkannya. Kehidupan orang islam sudah seperti kehidupan orang yahudi dan nasrani, tidak ada bedanya dengan cara-cara atau kehidupan orang kafir, sulit dibedakan mana yang beriman dan mana yang kafir. Semua kehidupan sunnah Nabi SAW sudah ditinggalkan oleh ummat islam itu sendiri. Tetapi begitu terjadi musibah, semua orang berpikir sama, “Apa dosa saya ? Kenapa ini bisa terjadi, musibah seperti ini ? Kenapa Allah tidak tolong kita ?”. Ummat islam diusir, dibunuh, dijajah, diperkosa hak-haknya, tetapi fikirnya hanya diri mereka sendiri saja (“Apa dosa saya ?”). Padahal jemaah-jemaah dakwah sudah datang mengajak kepada sunnah, kembali kepada amal Nabi SAW, amalkan islam, taat pada perintah Allah.
Walaupun perkara-perkara ini sudah didengar berkali-kali, tetapi tetap saja sama tidak ada peningkatan amal. Ditaskil, diminta untuk keluar di jalan Allah tidak mau, maka itulah akibatnya, musibah banyak datang. Tetapi fikirnya “Apa dosa saya ?”. Islamnya sudah kita tinggalin, kita acuhkan, tetapi ketika musibah tiba-tiba datang tidak terpikir amal-amal kita yang buruk, bahkan bertanya, “Kenapa Allah tinggalkan kita ? kenapa Allah tidak tolong kita?”
Inilah perbedaan antara pergerakan kita dengan pergerakan-pergerakan lainnya. Gerak kita ini adalah gerakan untuk membantu agama Allah. Sedangkan organisasi-organisasi dunia ini kita tidak boleh menafikan perjuangan mereka. Mereka juga bergerak memberikan manfaat untuk membantu umat Islam, sedangkan kita bergerak untuk membantu agama Islam. Kita harus yakin ketika islam kita bantu untuk ditegakkan maka umat islam akan dijaga oleh Allah Swt.
Inilah maksud kedatangan kita kemari dari seluruh propinsi yaitu kita bermusyawarah bagaimana membantu agama Allah :
1. Kita duduk disini untuk berfikir bersama-sama bagaimana mengeluarkan rombongan sebanyak-banyaknya untuk membantu agama Allah. Kita dengar kargozary, kita bentangkan takazanya, lalu kita siapkan diri kita untuk ambil bagian. Pertolongan Allah akan datang kepada saya ketika saya bantu agama Allah, maka saya keluar berangkat.
2. Kita berfikir dan bermusyawarah bagaimana kita membantu saudara kita. Apa yang kita bantu ? keperluan dan kebutuhannya itu baik, tapi yang penting bagaimana kita bisa bantu dia mendekatkan diri kepada Allah. Syekh Abdul Wahab, Masyeikh Pakistan, katakan :
3. ”Orang yang cinta kepada Allah tapi dia tidak mau membantu saudaranya untuk cinta kepada Allah, dan mengusahakan agar bagaimana Allah cinta pada saudaranya tersebut, maka Allah tidak akan cinta kepada dia. Walaupun orang ini adalah seorang ahli dzikir dan ahli ibadah”
Contoh :
Untuk itu kita bantu saudara kita dari daerah-daerah lain. Alhamdullillah saat ini makasar sedang mengalami peningkatan dan kemajuan dalam amalan Dakwah. Justru kalau kawan2 di makasar hanya berpikir untuk daerahnya saja maka Allah tidak akan bantu. Di Manado begitu juga sedang mengalami kemajuan, kalo hanya memikirkan daerah saja tidak mau memikirkan daerah lain, maka pertolongan Allah tidak akan datang ke Menado. Justru Allah akan bantu suatu propinsi jika propinsi itu membantu daripada kerja agama di propinsi yang lain. Allah akan bantu saya kalau saya bantu saudara saya, maka saya akan bantu saudara saya. Begitu juga mengenai musholla saya. Saya ingin mushola saya makmur, maka kita harus bantu mushola2 disekitar tempat saya. Ketika kita dan orang2 maqomi ditempat kita memikirkan bagaimana memakmurkan mushola2 disekitar maqomi kita untuk hidup 5 amalan dan keluar 3 hari ataupun 40 hari, maka Allah akan bantu memakmurkan musholla kita. Begitu juga dengan negara kita, kalu kita ingin maqomi di Indonesia ini maju maka kita harus memikirkan dan mengirimkan rombongan ke negara lain, maka nanti Allah akan bantu maqomi di negara Indonesia ini.
Allah berjanji dalam Al Quran :
“Wahai Muhammad Allah tidak akan menyiksa mereka (penduduk kota mekkah) selama engkau masih disana. Ataupun Allah tidak akan menyiksa mereka selama mereka beristighfar.”
1. Tidak akan disiksa selama masih ada Nabi SAW diantara mereka penduduk tempatan
2. Tidak akan disiksa selama masih ada istighfar
Jadi Allah tidak akan mengirimkan bala, musibah, bencana kepada suatu kaum selama masih ada Rasul ditengah-tengah mereka, atau mereka mau mengucapkan istighfar. Kekuatan yang bisa mengantisapasi bala dan musibah jika ada orang2 tertentu yang mumpunyai kedekatan khusus dengan Allah SWT. Cukup dengan doa mereka bisa mendatangkan hujan, menghancurkan suatu wilayah, dan lain-lain. Namun ini hanya orang-rang tertentu saja, pribadi-pribadi perorangan, seperti para Anbiya AS dan para Waliullah, sedikit sekali. Namun secara umum untuk ummat Allah berikan kekuatan kerja yaitu istighfar, inipun juga mampu menahan Bala atau Musibah yang akan turun. Istigfar umat ini, tobat yang utama, di dalam Al Quran dijelaskan adalah tobat ketika meninggalkan kerja dakwah.
Beberapa orang datang ke Syaikh Maulana Ilyas Rah.A, mereka berkata kepada Maulana Ilyas, “Syaikh antum ini wali.” Ini asbab hebatnya kerja dan gerak beliau dalam Dakwah. Namun apa kata Maulana Ilyas Rah.A, “Bukan, saya ini bukan wali, tetapi yang wali itu adalah kerja dakwah ini.” Jadi Maulana Ilyas tidak ingin membawa umat ini kepada pengkultusan, tetapi lebih ingin mengarahkan umat ini kepada kerja dakwah. Kita tidak menafikan adanya orang-orang tertentu yang mempunyai level kedekatan dengan Allah seperti para Aulia, tetapi ini sedikit sekali, tidak semua orang bisa mencapai level ketaatan seperti itu. Itulah namanya orang-orang pilihan Allah. Namun untuk yang secara umum agar umat ini dapat menjadi dekat dengan Allah, maka Allah berikan ummat ini kerja dakwah yang bisa membuat ummat ini diwalikan semua oleh Allah Swt. Di dalam tarekat-tarekat, mereka mempunyai mursyid yang mempunyai kelebihan-kelebihan tersendiri dalam doa. Namun dalam kerja dakwah ini tidak ada yang seperti itu, yang paling utama dalam kerja dakwah ini adalah kerja itu sendiri.
Satu rombongan didalamnya ada ulama, hafidz quran, yang didalamnya ada mantan perampok, pemabok, dan penjudi. Ketika keluar semuanya pakai sorban dan gamis. Ketika sampai di Madura, semuanya dipeluk orang, diciumin tangannya. Si ulama ketika makan dapat ayam panggang, maka si preman yang satu rombongan tadi dapat juga. Kenapa mereka sama-sama dimuliakan padahal yang satu ulama dan yang satu lagi preman ? Ini asbab kerja dakwah, di dalam kerja ini mereka di muliakan. Bukan karena pribadi-pribadi mereka, kalau karena pribadi na’udzubillah pribadi si preman. Tetapi asba kerja dakwah inilah ada preman dimuliakan. Sebaliknya jika datang masyeikh kita, misalnya maulana Saad, ke jakarta untuk urusan dunia, bisnis misalnya, beli batu bara. Kira-kira apakah mereka akan mendapat perlakuan yang sama ? tidak mungkin. Jadi dalam kerja ini bukan pribadinya yang dimuliakan oleh Allah Swt, tetapi kerjanya dalam dakwah. Kalau kita letakkan diri kita ini dalam kerja dakwah, maka kita akan di muliakan oleh Allah Swt. Namun jika kita lepas dari kerja ini maka tidak ada kemuliaan.
Meiji Mehrob, masyeikh pakistan, almarhum, pernah berkata kepada orang-orang ketika di jalan Allah, “Kalian tau di Nizzammuddin itu ada seorang wali, kalian datang kesana dan minta doa kepada dia.” Ini karena di daerah tersebut pengkultusan terhadap seorang wali untuk minta air agar di doakan dan diberi kesembuhan dan keberkahan suatu hal yang biasa. Singkat cerita puluhan orang tertaskyl untuk datang ke markaz nizzammuddin bertemu syekh Ilyas. Sampai di Nizammuddin, melihat orang-orang datang, yang dipikir syekh Ilyas untuk berangkat fissabillillah. Ternyata setelah ditafakkud oleh syekh Ilyas, para taskilan meiji mehrob ini hanya terseyum dan tertawa kecil saja, karena tujuan mereka datang untuk minta doa saja kepada syekh Ilyas. Mendengar hal ini seperti Maulana Ilyas marah lalu memanggil Meiji Mehrob. Syekh Ilyas berkata kepada Meiji Mehrob, “Kamu ini telah merusak kerja dakwah pada hari ini, kamu telah mengarahkan mahluk kepada mahluk.” Jadi arahkan orang-orang ini kepada kerja bukan kepada pribadi-pribadi. Contoh : “Mari pak kita ke Banjarmasin, disana ada ust. Luthfi, itu pembesar dakwah.” Atau “Mari pak kita ke temboro, disana ada Kyai Udzairon, itu pembesar dakwah”. Ini yang mentaskyl orang dengan cara seperti ini adalah pengrusak-pengrusak dakwah.
Kita tidak mentaskyl orang kepada pribadi tetapi pada kerja, apalagi jadi jurkam, ini lebih goblok lagi. Mentaskyl kepada ulama dan orang sholeh aja tidak boleh dalam kerja ini apalagi dalam pribadi-pribadi lain daripada itu.
Syekh Ilyas katakan azas kerja dakwah ini ada 3 :
1.    Ikhlas
2.    Ijtimaiyat
3.    Musyawarah
Jika kita jaga asas ini ada dalam diri kita maka Allah akan pelihara kita. Jadi orang yang kerja karena keikhlasan ini enak. Kenapa ini karena Ikhlas. Apa itu ikhlas ? ketika dipuji dia tidak bangga dan ketika dihina dia tidak kecil hati. Dulu waktu awal kerja dakwah ini yang datang ke markaz hanya 10 orang. Sehingga pada waktu itu semangat untuk mentaskyl orang masih terjaga. Ujian keikhlasan mulai datang ketika orang berbondong-bondong ambil bagian dalam kerja dakwah ini. Sekarang di malam markaz yang hadir sekitar 3000 orang. Maka asbab banyaknya orang yang hadir, sekarang orang ke markaz ada yang mau cari calon mertua, ada yang mau jual topi, ada yang buka travel, dan lain-lain. Orang ikhlas ini terjaga, jika dia terjaga maka kerja inipun akan terjaga. Nabi SAW bersabda :
“Makaana Lillahi da’ma watoshola” artinya : sesuatu yang diniatkan karena Allah akan berlanjut (tersambung terus dan tidak akan terputus).
“Wamakana yughoirubihi inkhota wal fatwa” Artinya : sesuatu yang dikerjakan karena selain Allah maka akan terputus (lepas begitu saja)
Kekuatan dalam kerja dakwah ini bukan terletak pada pribadinya tetapi pada ijtimaiyat (bersama-sama).
Contoh : Lidi ini terbuat dari pelepah kelapa bukan dari emas. Namun jika lidi ini bersatu bisa memberikan manfaat, seperti membersihkan. Namun jika lidi ini dari emas tapi tidak bersatu, kira-kira bisa gak membersihkan ruangan yang kotor ? tidak mungkin. Walaupun kita kasih satu minggu untuk bersihkan ruangan tidak akan bisa. Walaupun lidi ini dari pelepah kelapa tapi karena bersatu bersama-sama maka dalam satu jam ruangan ini bisa dibersihkan.
Dalam falsafah Fiqih, air ini ada 3 macam :
1. Air Mutlak : air yang suci dan mensucikan, bisa untuk diminum dan untuk wudhu
2. Air Musta’mal : air kurang dari 2 Qulah/216 Ltr, suci, bisa diminum tapi tidak bisa untuk wudhu
3. Air Mutannajjis : air kena najis atau kena kotoran, tidak bisa diminum, dan tidak suci.
Air yang kena percikan wudhu ini jadi musta’mal, jika kena kotoran jadi mutannajis. Namun jika air musta’mal ini dikumpulkan dalam jumlah besar hingga melebihi dua qullah, sehingga air musta’mal ini menjadi air mutlak kembali. Bahkan air mutlak jika cuman satu gelas maka untuk kebersihan paling hanya bisa digunakan untuk kencing saja, tetapi jika untuk membersihkan ketika buang air besar tidak cukup. Musta’mal jika dikumpulin dalam jumlah besar maka bisa digunakan untuk membersihkan sekian banyak kotoran. Bahkan air mutannajis satu ember dikencingin anaknya, mau dibuang gak ada iar lagi, diminum juga gak bisa. Akhirnya orang ini membawa air ini ke bak yang besar melebihi dua qullah dituangkan lalu diambil lagi satu ember, maka air ini jadi apa ? air tersebut jadi mutlak lagi. Bahkan ketika air musta’amal ini digabungkan dalam jumlah besar dipakai mandi dicempulingin santri-santripun masih mutlak jatuhnya. Air mutlak satu gelas ini seperti satu orang hafidz atau ustadz, hafal hadits-hadits, tapi karena dia bergerak sendirian, untuk bisa menyadarkan satu orang bencong aja, atau pemabuk, atau penjudi, ini susah. Beda dengan kita-kita ini yang musta’mal, kadang-kadang siwak nabi, lain waktu pakai siwak firaun (rokok), kadang-kadang baca Quran, tapi lain waktu kebanyakan baca koran, seperti musta’mal. Namun jika yang musta’mal ini dikumpulkan bersama-sama secara Ijtimaiyat, maka hasilnya bisa dahsyat.
Suatu ketika Maulana Yusuf diejek-ejek ulama-ulama, “Maulana kenapa kerja dakwah ini banyak melibatkan orang-orang bodoh, mantan penjahat, dan mantan ahli maksiat.” Lalu Maulana Ilyas tantang ulama ini, “Tuan disitu ada bencong dan pemabuk lagi kumpul-kumpul coba kamu ajak ke mesjid.” Ketika ulama ini datangin mereka, responnya hanya tertawa terkekeh kekeh saja orang-orang itu. Intinya ulama ini gagal mengajak mereka ke mesjid. Lalu Maulana Yusuf panggil rombongan khuruj kumpulan orang-orang mewat yang musthamal ini untuk mentaskil tongkrongan bencong-bencong dan pemabuk ini ke mesjid. Apa yang terjadi ? ternyata setelah di targhib mereka semua yang ditongkrongan itu berangkat masuk mesjid. Baru ulama ini faham tentang faedah orang-orang musthamal ini jika berkumpul dalam rombongan dakwah. Bahkan diantara kita ada yang mutannajis, mungkin dulunya ada yang pernah membunuh, namun karena bergabung bisa membersihkan daripada teman-temannya yang lain. Ada rombongan diminta untuk mentaskyl tongkrongan penjudi, sampai disana langsung dipeluk, targhib sebentar semuanya akhirnya masuk mesjid. Bahkan yang mutannajis bisa juga memberikan manfaat jika bergabung. Ini pentingnya Ijtimaiyat.
Sama seperti daun, jika daun ada hubungan dengan ranting, ranting berhubungan dengan cabang, lalu cabang berhubungan dengan batang, dan batang berhubungan dengan akar, dan akar berhubungan tanah, maka walaupun matahari yang menyinari daun tidak akan layu, kena angin tidak akan jatuh, kena air jadi bersih. Ini karena apa ? karena ada hubungan ijtimaiyat. Namun jika daun ini terpisah dari ijtimaiyat, terputus dari ranting, batang, akar, dan tanah, maka kena matahari akan jadi layu, kena angin jadi terbang, kena air hujan jadi busuk. Kalau pribadi-pribadi per orangan ini punya hubungan dengan mahalah tiap hari, lalu dari mahalah aktif di halaqoh, dari halaqoh hadir di malam markaz, dan malam ijtimaiyat lainnya seperti musyawarah propinsi, musyawarah indonesia, lalu dia hadir di musyawarah indonesia tiap 2 tahun di nizammudin, bahkan kalu dia ada rejeki dia juga hadir di haji kumpul bersama masyeikh tiap 2 tahunnya. Walaupun ada hujan, matahari panas, akan tetap kuat dia selama dalam ijtimaiyat. Namun jika dia bergerak sendiri-sendiri, bahkan jadi jurkam, maka akan kacau dan rusak dia.
Musyawarah, yang terakhir. Kita jauh-jauh kemari untuk musyawarah. Banyak orang hadir dalam ijtimaiyat, hadir dalam temboro, hadir di markaz, tapi tidak mau musyawarah, gerak sendiri, ini rusak. Justru dengan musyawarah akan membuat dia kuat. Keberhasilan dalam musyawarah bukan karena usulnya diterima, bukan, tetapi keberhasilan dalam musyawarah ketika kita mau menerima keputusan dari musyawarah. Dalam gerakan lain partai-partai berhasil ketika usulnya diterima, tetapi di gerakan kita tidak seperti itu, melainkan ketika kita siap menerima daripada hasil keputusan musyawarah. Ketika kita bermusyawarah dengan Masyaikh kita, Maulana Ahmad Lath beliau katakan untuk menjaga keutuhan markaz dalam setiap musyawarah hilangkan tiga perkara dalam diri kita di setiap markaz. :
1.Keluarkan Ghoirullah dari hati kita.
Contoh : gubernur atau presiden datang ke markaz, silahkan kita terima dan kita harus senang. Tapi kalau gubernur atau presiden pelukannya masuk hati ini kacau. Begitu juga Jibril datang, senang kita tapi jibril masuk hati ini kacau. Jangan ada perasaan takut dalam hati kita. Sekalipun itu jin ifrit, ataupun preman sekalipun silahkan saja datang, asal jangan sampai masuk hati. Suatu ketika seorang preman datang hendak mau membunuh Nabi SAW, Umar tangkap sudah hampir mau dibunuh oleh Umar RA, tapi apa kata Nabi SAW, “Umar lepaskan dia, dekatkan dia kepada saya.” Asbab ini si preman tadi masuk islam. Jadi jangan ada perasaan takut ataupun kesan di hati kita.
2. Hilangkan kepentingan pribadi dalam dakwah, yang ada kepentingan Ijtimaiyat.  
Dalam musyawarah kepindahan markaz, si fulan menolak dengan alasan markaz sekarang berkah kalu pindah bisa menghilangkan keberkahan. Namun masalahnya bukan karena markaznya tapi dia punya kepentingan tokonya ada disebelah markaz yang sekarang, kalu pindah bisa bankrut tokonya. Ini kacau namanya. Begitu juga sebaliknya mendukung kepindahan markaz karena di markaz yang baru tokonya udah siap berdiri. Ini namanya konflik kepentingan, ini bisa mengacaukan.
3. Hilangkan Suudzhon setelah selesai musyawarah.
Ketika sudah diputuskan dalam musyawarah kita jaga husnudzon, kita terima semua hasil keputusan musyawarah dengan baik. Insya Allah jika ketiga perkara ini ada Allah akan pelihara kita dalam kerja ini.
Demikian yang harus kita lakuan disini, bahwa kita berniat bermusyawarah secara Ijtimaiyat untuk kepentingan agama islam. Bagaimana kehadiran kita disini dapat membantu agama islam. Insya Allah kita niat amalkan.


Rabu, 16 Maret 2011

37. Bayan Maulana Tariq Jamil

BAYAN MASTURAH
KEDUDUKAN WANITA DALAM ISLAM

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ فَجَعَلَهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنَا مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلَنَا شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ أَكْرَمَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ
أشهدُ أن لا إله إلاّ الله وحدَه لا شريكَ له ، إلهاً واحداً أحداً صمداً ، لم يتَّخِذْ صاحبةً ولا ولداً  وأشهد أنسيدنا ومولانا محمداً عبده ورسوله. أما بعد
قال تعالى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
قال صلى الله عليه وسلم: إذَا صَلَّت المرأةُ خَمْسَها و صامت شهرها و أطاعت بَعلَها فلتدخل من أي أبواب الجنة شاءت
Hadirin-hadirat yang mulia, cukup banyak masturah yang hadir, tempat sempit dan udara panas. Pahala pasti didapatkan. Maka hendaknya bayan didengar niat untuk diamalkan dan merubah arah kehidupan. Sehingga pertemuan kita ini bukan sekedar pertemuan kemudian bubar, tapi bagaimana kita sampai pada apa yang disampaikan dan didengar dalam majlis.
Dengan bahasa yang sangat indah Allah SWT. bertanya dalam Al Quran :
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
“apakah mereka diciptakan tanpa bahan sama sekali ataukah mereka yang menciptakan?” (Ath Thuur:35)
1.     Apakah mereka jadi dengan sendirinya? Ini pertanyaan pertama.
2.     Ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ini pertanyaan kedua.
أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi?” (Ath Thuur: 36)
Ini pertanyaan ketiga. Dan masih banyak pertanyaan lainnya.
Bila kalian terjadi dengan sendirinya, maka kalian seperti tanah di hutan atau lumpur di jalan, bebas semau kalian. Tidak akan ada tanya jawab terhadap kalian, kalian bebas sebebas-bebasnya.Dan bila kalian menciptakan diri kalian sendiri, kalian juga bebas. Apa yang kalian inginkan, maka lakukan. Juga tidak akan ada pertanyaan terhadap kalian.Dan bila kalian yang menciptakan langit, bumi, beserta isinya, gunakanlah semau kalian. Dan tidak akan ada lagi batasan halal dan haram. Pernikahan dan perzinahan tidak akan ada bedanya. Menutup aurat atau membukanya sama saja. Mengerjakan shalat atau meninggalkannya tidak ada bedanya. Kejujuran dan dusta tidak ada bedanya. Kesucian pribadi dan kenistaan tidak ada bedanya. Rasa malu dan rasa tidak punya malu menjadi sama. Keadilan dan kezaliman tidak ada bedanya.
Maka bila kalian terjadi dengan sendirinya,atau menjadikan diri kalian sendiri, atau kalian yang menciptakan langit dan bumi, maka Allah SWT. Seolah-olah berfirman kepada kalian :
“Biarlah Aku mundur, apa yang kalian inginkan, lakukanlah.”
Maka kita pelajari pertanyaan-pertanyaan ini. Pernahkah ada sesuatu di alam ini yang terjadi dengan sendirinya? Adakah sebuah gedung sekolah yang berdiri dengan sendirinya? Adakah seorang wanita yang pada pagi hari tiba-tiba melihat seoang anak jadi sendiri di sampingnya? Atau tiba-tiba muncul setumpuk perhiasan emas didepannya? Roti masak dengan sendirinya? Daging matang dengan sendirinya? Pernahkah ada yang melihat seperti ini? Tidak pernah ada. Maka berarti saya tidak jadi dengan sendirinya. Dan pasti bahwa saya tidak menciptakan diri saya sendiri, tidak menciptakan orang tua saya, tidak menciptakan kampung saya. Seandainya saya ciptakan diri saya sendiri, tentulah saya memilih bentuk yang lebih indah dari ini, dan mungkin saya akan menentukan agar lahir di tengah keluarga raja. Maka jelaslah bahwa saya tidak jadi sendiri dan tidak pula menciptakan diri saya sendiri. Lalu siapa yang menciptakan? Dan bila sepotong kayu tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin pohon bisa saya buat? Bila sebutir pasir tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin alam semesta saya yang ciptakan? Bila setetes air tidak bisa saya ciptakan mana mungkin lautan bisa saya ciptakan? Bila selembar daun tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin buah bisa saya ciptakan? Bila selembar bulu tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin burung merak bisa saya ciptakan? Bumi siapa yang menciptakan? Langit siapa yang menciptakan? Kita tidak jadi sendiri, tidak menciptakan diri sendiri, dan tidak bisa menciptakan langit dan bumi. Lalu siapa yang menciptakan? Bila wanita tidak bisa menjawab pertanyaan ini, binasa. Laki-laki tidak bisa menjawab pertanyaan ini, binasa. Siapa pun orangnya, walaupun mendapatkan gelar cumlaud dalam segala bidang, bila pertanyaan ini tidak bisa dia jawab maka binasa, gagal dunia akhirat. Lalu, siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Siapakah yang menciptakan saya? Disambung pertanyaan kedua, untuk apa saya diciptakan? Pertanyaan ini ada dalam Al Quran, kita cari jawabannya, maka kita temukan jawabannya. Allah SWT. firmankan dalam Al Quran:
هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
“ Bukankah telah datang dalam kehidupan manusia suatu masa tatkala manusia tidak ada sama sekali” (Al Insan: 1)
Allah SWT. juga berfirman :
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dulu semuanya tidak ada, langit tidak ada, bumi tidak ada, maka yang ada hanya Allah. Allah yang dulu, Allah yang sekarang, itulah Allah Dialah Allah yang Qayyum, Dialah Allah yang Mutakabbir, Dialah Allah yang Awal, Dialah Allah yang Akhir, Dialah Allah yang Zhahir, Dialah Allah yang Bathin, Dialah Allah yang Qayyum, Dialah Allah Malikul mulk, Dialah Allah Dzuljalali wal ikram, Dialah Allah yang maha suci, Dialah Allah yang tiada awalnya, Dialah Allah yang tidak ada akhirnya.” (Al Anbiya: 30)
Alam semesta ini ada awalnya dan ada akhirnya. Namun Allah Swt yang Maha ada, ada tanpa awalan dan terus ada tanpa akhiran. Allah SWT. adalah yang Maha ada. Tapi adanya Allah Swt tidak membutuhkan tempat. Allah Swt adalah yang Maha ada, tapi tidak perlu pada masa. Allah SWT. adalah yang Maha ada, dan adanya Allah Swt tidak bisa ditentukan dimana arahnya. Allah Swt adalah yang Maha ada, tidak perlu pada bentuk, tidak perlu pada manusia. Allah Swt maha ada, tidak perlu pada isteri, tidak perlu pada anak, tidak perlu pada alam, tidak perlu pada langit, tidak pelu pada bumi, tidak perlu pada Rasul, tidak perlu pada Anbiya, tidak perlu pada surga, tidak perlu pada neraka, tidak perlu pada Mikail, tidak perlu pada Israfil, tidak perlu pada Izrail, tidak perlu pada surga, tidak perlu pada neraka, tidak perlu pada langit, tidak perlu pada bumi, tidak perelu pada Arsy, tidak perlu pada Lauhil mahfudh, tidak perlu pada kursi.
Kita namanya manusia ini, di kelas kita duduk sejak kecil duduk di bangku sekolah. Dan manusia ini pasti berada dalam salah satu dari beberapa keadaan. Seorang itu mungkin berdiri, kalau tidak, mungkin duduk, kalau tidak, mungkin berbaring, kalau tidak, mungkin tiduran, mingkin ke arah kiri, mungkin ke arah kanan, pasti salah satu itu.
Tapi itulah Allah Swt yang tidak duduk, tidak juga berdiri, tidak berbaring, tidak tengkurap, tidak terlentang, tidak miring kiri, tidak miring kanan, tidak perlu makan, tidak perlu minum, tidak makan, tidak minum, tidak mengantuk, tidak tidur. Dialah Allah yang tidak pernah merasa takut, Dialah Allah yang baginya sama antara langit dan bumi, baginya sama antara terang dan gelap, baginya sama antara siang dan malam, arsy dan kursi sama baginya, cahaya dan api sama baginya, gunung dan tanah lapang sama baginya. Dialah Allah raja manusia, raja bagi jin, raja bagi lautan, raja dari api, raja dari besi dan perak, raja segala-galanya.
Dialah raja ruang diantara langit dan bumi, Dialah raja burung-burung yang berterbangan di udara. Dialah raja tiap-tiap tetesan air hujan. Raja pemilik minyak wangi yang akan diciptakan. Dialah pemilik semuanya. Dia pemilik kepakan sayap burung-burung yang berterbangan. Dialah pemilik ular yang menyemburkan bisanya. Dialah yang menciptakan kerang yang di dalamnya terdapat  mutiara. Dialah yang menciptakan minyak ambar dari ikan. Dialah pencipta dan pemilik lebah yang mencelupkan mulutnya di air kemudian darinya diciptakan madu. Dialah yang menciptakan dan memiliki ulat-ulat yang mengeluarkan sutera-sutera. Dialah Allah yang memberikan minum kepada kijang kemudian darinya Allah ciptakan minyak kasturi. Dialah Allah yang menciptakan air yang darinya Allah Itumbuhkan buah-buah mangga yang indah dan ranum. Dialah Allah raja dan pemilik air, yang kadang-kadang darinya Allah ciptakan mangga, darinya Allah ciptakan delima. Dialah Allah Iyang menciptakan pohon yang pahit, daun yang pahit, dahan yang pahit, ranting yang pahit, tapi darinya Allah Itumbuhkan buah-buah delima. Dibungkus kulit yang pahit, semuanya pahit. Dan tatkala dibuka, begitu nampak keindahan ciptaan Allah I, butiran-butiran ada yang berwarna putih. tatkala nampak butiran delima yang berwarna putih, maka seolah-olah mutiara ada di sana. Bila itu berwarna merah, maka seolah-olah itu adalah buah yang ditaburi yaqut. Dan itu semua Allah I kumpulkan dalam suatu tempat yang rapi dan rapat, kemudian….. supaya manusia berpikir, “Ini semua siapa yang menciptakan?” Inilah Allah dan inilah ciptaan Allah.
هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Inilah ciptaan Allah, inilah buatan Allah, maka tunjukkan apa yang diciptakan oleh selain Allah SWT”. (Luqman: 11)
Itulah Allah Swt. yang berfirman kepada kita, bahwa kita pun diciptakan dari air. Yang dengan air itu pula Allah Swt telah ciptakan pohon delima, Yang dengan air itu pula Allah Swt, telah ciptakan buah delima. Yang dengan air itu pula Allah Swt telah ciptakan buah jambu. Yang dengan air itu pula Allah Swt telah ciptakan mutiara. Dan dari air itu pula tatkala dimasukkan ke dalam kijang, maka dijadikan kasturi. Dan dari air itu pulalah tatkala dimasukkan kedalam lebah, maka yamg muncul adalah madu. Kalian sebelumnya adalah air, kalian sebelumnya adalah air.
أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى artinya : Dan sebelum air kalian adalah tanah (Al Qiyamah : 37)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ Artinya : “Dari tanah dikeluarkan gizi, dari gizi dikeluarkan sari patri, dari sari pati dikeluarkan air”. (Al Mukminun : 12)
Kemudian dari situ Allah Swt teruskan dibuatlah bentuk oleh Allah Swt yang berbeda-beda, kemudian disempurnakan, diberikan warna-warna yang indah,warna-warna yang cantik. Kemudian Allah Swt menjadikan dalam bentuk laki-laki, Allah SWT.menjadikan dalam bentuk wanita:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
(Al Hujurat: 13)
Dan dalam ayat lain Allah SWT. Berfirman :
يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ () أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا (AsySyura: 49-50)
Allah Swt berikan anak perempuan, Allah Swt berikan anak laki-laki, atau  Allah Swt berikan pasangan laki-laki dan wanita. Dan Allah menjadikan orang yang dikehendaki sebagai mandul, Allah SWT. tidak berikan anak padanya, walaupun menjalani hioduo drngan meminta-minyta supata dikaruniai anak, Allah SWT. tidak berikan anak padanya. Maka telah jelas jawaban bagi kita . Allah yang maha pencipta. Langit, Allah yang menciptakan :
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ (Al Hujurat: 47)
Bumi, Allah yg menciptakan :
وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ (Al Hujurat: 48)
Gunung, Allah yang menciptakan:
وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا (An Nazi’at: 32)
Air, Allah yang mengeluarkan :
أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (An Nazi’at: 31)
Hujan, Allah yang menurunkan :
أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا () ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا () فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا () وَعِنَبًا وَقَضْبًا () وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا () وَحَدَائِقَ غُلْبًا (‘Abasa: 25-30)
Dialah Allah yang membentangkan bumi, mengengkat langit, menurunkan hujan. Lalu Allah berfirman kepada kita :
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ ( Al Infithar ayat 6 )
Dalam Al Quran hanya dua kali disebut يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ Ini adalah firman yang sangat indah. Allah bukan berdialog hanya kepada orang muslim, tetapi kepada semua manusia di seluruh dunia. Kepada muslim, kafir, orang yang taat, orang yang ingkar, Huindu, Buddha, Atheis, Komunis, pemabuk, orang yang ahli maksiat, semuanya, Allah Swt berfirman kepada mereka semuanya. Tergambar oleh saya seolah-olah seperti seorang ibu yang memegang kedua pundak anaknya, dipegang sambil bertanya, “wahai anakku, mengapa engkau berburuk sangka kepadaku?” Mana mungkin aku berbuat buruk padamu? Sebab memang itulah watak seorang ibu. Seperti apapun dia akan selalu menginginkan kebaikan anaknya.
Tergambar oleh saya, seolah-olah AllahSWT memegang pundak setiap manusia. Baik laki-laki maupun wanita, Allah Swt bertanya, “wahai hambaku, bagaimana kamu bisa berburuk sangka padaku? Sedangkan Aku adalah yang menciptakanmu :
الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ (Al Infithar: 7)
menciptakannya dan membentuk fisikmu betul-betul seimbang, betul-betul serasi :
فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ [ Al Infithar: ayat 8  ]
Dalam rupa yang Allah Swt kehendaki….. tetapi setelah diberi keindahan wajah manusia lupa bagaimana sebelumnya dia dulunya adalah air yang hina, kemudian menjadi nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah, kemudian menjadi mudhghah, kemudian diberikan tulang-tulang padanya, lalu dibungkus dengan kulit, dan dimasukkan ruh padanya. Barulah dikeluarkan ke dunia. Dalam keadaan tidak ada gigi yang bisa menggigit, tidak ada tangan yang bisa memegang, kaki belum bisa berjalan, tidak bisa berbicara, tidak bisa mengeluh, tidak bisa mengadu ingin buang air besar, ingin buang air kecil, lalu Allah Imenetapkan dua orang yang sangat sayang padanya. Allah Imemberikan kasih sayang yang begitu dalam pada diri kalian, dalam hati kedua orang tua. Mereka tidak bisa makan sebelum engkau kenyang, mereka tidak bisa tidur sebelum engkau tidur. Bila engkau menangis, maka makanan yang mau disuap pun terjatuh. Engkau ketakutan, rasa kantuk pun hilang. Engkau sedikit bersuara, maka teriakan pun keluar dari mereka. Seandainya Allah Swt tidak membuat aturan demikian, tentulah tidak ada yang memperhatikanmu tatkala engkau kelaparan, membersihkanmu tatkala engkau buang air, yang menidurkanmu di tempat yang hangat. Tidak ada yang bekerja seharian, kecapean untuk nafkahmu, tidak ada seorang wanita yang seharian susah payah memasak makanan, memasak daging untukmu. Mereka semua dibuat seperti ini untuk keperluanmu. Seoang ibu duduk menunggu anaknya, tatkala anaknya datang, dia gembira menyambutnya, “Anakku datang, anakku datang.” Allah Swt yang mengatur ini semua untuk pemeliharaanmu. Andaikan Allah SWT. cabut rasa kasih sayang, tentukah seekor ular akan menelan anaknya, tentulah seorang ibu akan tega melemparkan anaknya ke dalam tempat sampah.
Allah SWT. yang mengatur ini semua. Dan tatkala engkau belum bisa apa-apa, menelan makanan pun susah, Maka apa yang Allah Swt lakukan, apa yang Dia buat? Allah Swt mengalirkan dua mata air di tempat yang sangat dekat denganya. Yang mendatangkan kehangatan di waktu dingin, dan mendinginkan di waktu kepanasan. Begitu dekat, begitu mudah. Tidak ada yang lebih bermanfaat, tidak ada yang lebih baik dari seorang anak ini dari pada air susu ibunya. Seorang ahli herbal mengatakan pada saya, “seandainya seorang anak pada masa mudanya tidak merusak benih-benih susu yang dia minum waktu bayi, pengaruh air susu ibu ini akan bertahan sampai 40 tahun lamanya”. Susu apa pun di seluruh dunia, jenis apa pun tidak ada yang memberikan kekuatan, tidak ada kandungan sebagaimana kandungan air susu ibu. Allah SWT menciptakan ini semua :
الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ () فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ
Artinya
“Tatkala tidak ada seorang wanita yang bersujud pada Allah, tidak ada seorang pemuda meletakkan dahinya menyembah Allah SWT”.
Maka Allah Swt lanjutkan,“Wahai manusia, wahai hambaKu, Aku yang telah menciptakanmu, kenapa engkau sekarang menjadi penentangKu? Aku yang telah menciptakanmu. Kenapa sekarang engkau berburuk sangka padaKu? Sedangkan seorang ibu pun tidak mungkin menginginkan keburukan untuk anaknya. Akulah yang berkata kepadanya, “gunakanlah hijab” Akulah yang mengatakan supaya engkau letakkan dahimu diatas tanah, “Shalatlah”, Akulah yang memerintahkan supaya hubungan laki-laki dan perempuan ada batasnya, Akulah yang mengatakan supaya perempuan menjaga dirinya dari nereka. Seorang anak, dia tidak akan berpikir buruk terhadap ibunya. Akulah yang mengatakan supaya kalian tidak mengangkat kepala di depan bapak kalian. Akulah yang mengatakan pada isteri untuk taat kepada suaminya. Akulah yang mengatakan supaya suami menunaikan kewajiban tetrhadap isterinya. Akulah yang memerintahkan supaya kalian berdagang dengan cara yang benar dengan cara yang jujur, tidak mengurangi timbangan dan takaran. Jangan sampai jahil dalam pekerjaan, jangan sampai mengandalkan kekuatan untuk berbuat kejahatan. Tapi, apa yang kamu lakukan dengan itu semua? Lalu kenapa tiap-tiap langkah yang kalian lakukan untuk melanggar perintahku? Kau tinggalkan shalat, kau letakkan Al Quran sebagai hiasan di rumah, di simpan hanya untuk mendapatkan keberkahan saja? Kitab yang mestinya dipakai, dilipat dan disimpan kemudian lupa tidak belajar.
Saya ingat waktu kecil, setiap saya pulang dari masjid ke rumah, di sepanjang rumah terdengar ibu-ibu yang membaca Al Quran di rumah masing-masing. Tapi sekarang apa yang terjadi? Orang melihat tv sampai tengah malam, orang kehilangan rasa malu di mana-mana. Sekarang orang pada menangis sedih kenapa ekonomi merosot, banyak hutang, padahal bukan itu yang kita tangisi. Tapi hilangnya anak-anak kita, itulah yang kita tangisi. Laki-laki hanyut dalam kesenangan. Foya-foya, nyanyian, tarian dan perempuan. Itu perbuatan tanpa rasa malu. Wahai, ini seolah-olah perahu telah tenggelam, bahtera tidak bisa menepi ke pelabuhan, kalaulah ini masih ada tidak tenggelam, itu karena kasih sayang Allah SWT. yang menahan.
Dan bila kaum laki-laki dan perempuan sudah biasa dengan kesenangan musik, anak-anaknya sudah biasa dengan nyanyian, di pasar-pasar sudah biasa mengurangi dalam timbangan dan takaran, anak-anak berani durhaka kepada orang tuanya, penindasan dalam kekuasaan, kedzaliman di pengadilan, orang yang kuat berbuat sewenang-wenang, orang yang didzalimi berteriak-teriak tidak ada yang memberikan pertolongan. Kemudian dalam keadaan seperti ini mestinya kita tidak bisa makan, tidak bisa minum, tidak bisa beristrahat, tidak bisa tinggal di atas bumi, mestinya semua tenggelam ditelan ke dalam tanah. Bahkan satu kabupaten, satu provinsi, satu negara, seluruh dunia pun mestinya sudah tenggelam.
Kalau ada seorang wanita, di tengah-tengah keramaian, dia menari-nari, tiap-tiap gerakannya ini punya kekuatan luar biasa yang bisa menghancurkan gunung himalaya, yang bisa mengeringkan samudera, hutan-hutan akan terbakar menjadi padang pasir, dan bumi akan hilang dari penduduknya atau bahkan jadi kosong. Untunglah bumi ini bukan tempat hukuman, bukan tempat balasan. Allah Swt tidak jadikan bumi ini tempat hukuman dan balasan. Dunia hanyalah tempat ujian. Sedangkan tempat balasan akan datang tatkala mata terpejam, ibu lupa pada anaknya, anak lupa pada ibunya, nyawa sudah berada di tenggorokan, tatkala suami lupa pada isterinya, isteri lupa pada suaminya, saudara lupa dengan saudaranya, itulah waktu yang sebenarnya. Bagaimana keadaan manusia hidup, seperti itulah keadaan kematiaannya. Bagaimana ia menjalani hidup, dalam keadaan itu malaikat maut akan datang menjemputnya.
Maka semua yang hadir, ibu-ibu, bibi-bibi, saudari-saudari, bapak-bapak, saudara-saudara, paman-paman, maupun yang tidak hadir yang bertebaran di pasar-pasar dan di jalanan, seolah-olah Allah SWT turun dan memegang pundak setiap orang dari kita dan berfirman :
“Wahai hambaku, Akulah yang menciptakanmu. Mana mungkin Aku membuat keputusan buruk untukmu. Mana mungkin aku menyempitkan hidupmu. Ibumu rela kelaparan untuk memberi makan padamu, ibumu rela menahan kantuk untuk menidurkanmu. Sedangkan Aku ini tujuh puluh kali lipat lebih sayang daripada seorang ibu.”
Tujuh puluh dalam istilah bahasa Arab bukan dimaksudkan angka tujuh puluh. Tetapi maksudnya adalah banyak sekali, tanpa batas. Seolah Allah ingin mengatakan “Aku lebih sayang daripada seorang ibu berkali-kali lipat tanpa batas. Maka Aku mengatakan padamu untuk memasang sajadah, shalat dan meletakkan dahi di atas tanah. Aku perintahkan para wanita untuk memakai hijab. Aku tidak melarang keluar. Bila akan keluar, keluarlah tetapi dengan hijab. Kalaupun bekerja, bekerjalah namun dengan hijab. Dan bila bulan Ramadhan tiba, Aku perintahkan untuk berpuasa. Bila engkau seorang puteri dari seorang ibu, maka perintahKu adalah khidmatlah kepada ibumu dan ayahmu. Bila engkau punya saudara, maka khidmatlah pada saudaramu. Bila kedudukanmu sebagai isteri, maka berkhidmatlah kepada suamimu. Bila engkau adalah seorang anak laki-laki, maka perintahKu adalah supaya engkau berbakti kepada orang tuamu. Bila engkau punya saudara perempuan, maka perintahKu adalah supaya berkhidmat kepada saudarimu. Bila engkau seorang suami, perintaKu adalah supaya engkau menanyakan hak isterimu. Bila engkau seorang bapak, maka perintahKu adalah supaya engkau mendidik anak-anakmu. Bila engkau seorang pedagang, perintahKu adalah agar menimbang dan menakar dengan kejujuran. Bila engkau seorang petani, maka janganlah hasil pertanianmu membuatmu takabur. Tapi berikanlah, Infakkanlah sebagian untuk fakir, untuk orang miskin yang membutuhkan. Bila engkau seorang raja, maka berbuat adillah. Bila engkau orang yang kuat, maka berbuat insaflah. Bila engkau duduk sebagai seorang hakim di pengadilan, maka janganlah engkau menjadi pembela orang-orang yang berbuat zalim.
Ini semua Aku perintahkan kepadamu, tidak mungkin bukan untuk kebaikanmu, tidak ada yang lebih sayang kepadamu dari pada Aku :
وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“dan adalah Allah SWT. Maha berterima kasih dan Maha mengetahui”. (An Nisa: 147)
Saat Nabi Yunus AS keluar dari mulut ikan, maka Allah SWT. berfirman padanya, “wahai Yunus, kaummu telah bertaubat, pergilah pada mereka. Di tengah perjalanan Nabi Yunus AS bertemu dengan tukang tembikar yang membuat bejana-bejana yang sangat besar terbuat dari tanah. Maka Allah Swt perintahkan pada Nabiyullah Yunus As supaya pembuat tembikar itu memecahkan bejana yang dibuatnya. Maka tatkala diperintahkan padanya, pembuat tembikar itu bertanya,”kenapa,untuk apa saya pecahkan, ini  kan sudah saya buat dengan tanganku sendiri, untuk apa saya pecahkan? Maka Nabiyullah Yunus Swt melaporkan keengganan pengrajin ini kepada Allah SWT. Maka Allah Swt berfirman kepada Nabiyullah Yunus Swt, “Wahai Yunus, itu orang yang membuat bejana dengan tangannya sendiri, dia tidak mau menghancurkannya, maka bagaimana engkau hancurkan, engkau bawa manusia yang telah Aku buat, Akulah yang membuatnya engkau bawa mereka pada kematian, engkau sampaikan mereka pada kehancuran. Kenapa engkau biarkan mereka mencampakkan diri dalam kebinasaan? Sedangkan mereka semua telah bertaubat, mereka semua hambaku, hingga kembali kepadaku.”
Maka untuk itulah katakan kepada seluruh manusia di dunia baik laki-laki maupun wanita, berdamailah kalian dengan Allah SWT. Rabb yang begitu Penyayang, dan Penyantun. Tidakakan kalian temukan selainNya. Dia yang maha Kasih Sayang, Maha Pemberi, Pemilik segala sifat yang indah, Pemilik Kerajaan :
الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ القُدُّوسُ السَّلامُ المُؤْمِنُ المُهَيْمِنُ العَزِيزُ الجَبَّارُ المُتَكَبِّرُ الخالِقُ البارىءُ المُصَوّرُ الغَفَّارُ القَهَّارُ الوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الفَتَّاحُ العَلِيمُ الباسِطُ الخَافِضُ الرَّافِعُ المُعِزُّ المُذِلُّ السَّمِيعُ البَصِيرُ الحَكَمُ العَدْلُ اللَّطِيفُ الخَبيرُ الحَليمُ العَظِيمُ الغَفُورُ الشَّكُورُ العَلِيُّ الكَبِيرُ المُغِيثُ الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ الرَّقِيبُ المُجِيبُ الوَاسِعُ الحَكِيمُ الوَدُودُ المَجِيدُ الباعِثُ الشَّهِيدُ الحَقُّ الوَكِيلُ القَوِيُّ المَتِينُ الوَليُّ الحَمِيدُ المُحْصِي المُبْدِىءُ المُعِيدُ المُحْيِي المُمِيتُ الحَيُّ القَيُّومُ الوَاجِدُ المَاجِدُ الوَاحِدُ الصَّمَدُ القادِرُ المُقْتَدِرُ المُقَدِّمُ المُؤَخِّرُ الأوَّلُ الآخِرُ الظَّاهِرُ البَاطِنُ الوَالي المُتَعالِ البَرُّ التَّوَّابُ المُنْتَقِمُ العَفُوُّ الرًّؤُوف مالِكُ المُلْكِ ذُو الجَلالِ وَالإِكْرَامِ المُقْسِطُ الجامِعُ الغَنِيُّ المُغْنِي المَانِعُ الضَّار النَّافعُ النُّورُ الهَادِي البَدِيعُ الباقِي الوَارِثُ الرَشِيدُ الصَّبُورُ
Adakah yang bisa menunjukkan Raja seperti Dia? Adakah yang bisa menunjukkan Pencipta seperti Dia? Adakah yang bisa menunjukkan Allah selain Dia? Lalu kita tidak bersujud kepadanya? Sedangkan Dia yang mengadakan. Dia yang memberikan mata. Wanita menghiasi wajah dengan anting dan perhiasan lainnya. kita katakan, hiasilah dengan wajahmu dengat tanda sujud. Wanita menghiasi matanya dengan celak. kita katakan, hiasilah matamu denga rasa malu. Orang berangapan bahwa keluar dengan penuh perhiasan adalah sebagai kesempurnaan. Justru Kita katakan, jadikanlah menyembunyikan diri sebagai kesempurnaan :
Berlian selalu tersembunyi di balik gunung. Mutiara tersembunyi di dalam kerang. Biji gandum tersembunyi di dalam cangkangnya. Jagung tersimpan di dalam kulitnya.
Barang berharga tidak akan di lempar di tengah jalan. Barang bernilai tidak mungkin terbuka di tengah pasar. Adakah buah yang tidak diselubungi kulit? Semakin bernilai dan bermanfaat, tutupnya semakin rapat. Sedangkan di dunia ini tidak ada perhiasan yang lebih bernilai daripada wanita. Dari wanitalah makmurnya dunia. Bila pangkuan wanita kering, keringlah dunia. Bila pangkuan wanita subur, suburlah dunia. Bila pangkuan wanita tandus dari tarbiyah, maka sebagaimana dari lumpur bermunculan semak berduri, dari pangkuan wanita akan muncul pembunuh, pemabuk, pezina, penjual diri, penjual kehormatan, penindas kemanusiaan. Dan bila pangkuan wanita subur, muncullah saifullah (pedang Allah), Junaid Al Baghdadi, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Rabiah Adawiyah, Sirri Siqthiy, Ma’ruf Karkhi, Bakhtiar Khaki. Lihatlah masa lalu, tatkala pangkuan ibu subur makmur.
Hari ini, pangkuan wanita kosong. Para wanita mandul. Para lelaki mandul. Kita lihat banyak anak di rumah-rumah. Bukan seperti itu maksudnya. Anak adalah yang bila dilihat oleh Allah SWT. Dia akan ridha padanya. Yang bila dilihat oleh Rasulullah SAW, beliau akan gembira dengannya. Yang Islam bangga dengannya. Bumi membanggakannya. Bila seorang lelaki maupun wanita bersujud, lalu meneteskan setetes air mata jatuh ke tanah. Kesejukan yang dirasakan tanah dengan jatuhnya tetesan ini tidak dapat disamai dengan hujan selama empat puluh hari. Air hujan yang menetes ke bumi hanya akan merasuk beberapa inchi saja ke dalamnya. Tetapi air mata tangisan akan menembus bumi hingga ke tahtats tsara (yang di bawah tanah). Bila disuarakan nyayian di atas bumi, pecah hatinya. Tarian yang di lakukan di permukaannya telah menyulut api di tiap-tiap ruasnya. Perzinaan yang memenuhi bumi sebenarnya membuatnya siap untuk meledak. Kedurhakaan kepada orang tua telah membuat gunung bersiap untuk beterbangan. Begitu banyak kemaksiatan dilakukan yang bisa menyebabkan runtuhnya langit sebagai atap.
Maka karena Allah saya berkata, kembalilah kepada Allah. Wanita diciptakan bukan untuk menari. Di manakah pesta pernikahan yang bersih dari goyangan tubuh wanita? Kita mengatakan bahwa orang kafir (Hindu) adalah musuh kita, tetapi wanita mana yang tidak terbawa kebiasaan mereka?
Saya tidak menyuarakan perkataan saya. Saya hanya kurir yang menyampaikan pesan Allah dan RasulNya. Hendaklah tunaikan hak yang memang selayaknya ditunaikan. Seorang ibu tidak selalu setia. Seorang anak tidak selalu setia. Seorang istri tidak selalu setia. Seoramg anak yang ditinggal mati ibunya tidak akan manyertainya di dalam kubur. Bahkan dialah yang menimbun ibunya. Tetapi Allah, Dialah Dzat yang selalu setia. Menyertai saat di dunia. Menyertai saat di akhirat. Menyertai saat hidup. Menyertai saat mati. Di kubur, shalat di sebelah atas, sedekah sebelah kanan, puasa sebelah kiri, pahala berjalan ke masjid datang, pahala sabar datang, taqwa datang, munkar nakir datang, tanya jawab diadakan.
Lihatlah Rabiah Adawiyah. Tidak mungkin menggantikan namanya dari lembaran sejarah. Seorang wanita akan dihargai bila pertama, dari keluarga terhormat. Dua, berwajah cantik. Tiga, kekayaan. Empat, berketurunan. Bila seorang wanita bukan dari keluarga terhormat akan turun nilainya. Bila tidak cantik, akan lebih jatuh lagi nilainya. Lalu tidak berharta, akan lebih rendah nilainya. Dan bila mandul, tidak akan ada lelaki yang mau padanya. Tetapi sungguh mengherankan, tidak satu pun kelebihan ini ada padanya. Dan kisahnya selalu dibicarakan di mana-mana sejak ratusan tahun lamanya. Dia adalah dari kalangan budak bangsawan. Dari Ethiopia. Yang kedua, wajahnya adalah wajah Ethiopia Kulit hitam, hidung kecil. Yang ketiga, dia adalah budak. Dari mana budak memiliki kekayaan? Yang keempat, dia mandul. Suaminya meninggal di waktu muda. Menjanda sejak usia muda. Kebiasaannya, mandi, lalu menganti pakaian, kemudian mendatangi suami. Dia bertanya, “Apakah aku diperlukan?” Bila suami mengatakan tidak, maka dia akan ke tempat shalatnya. Semalaman di sana. Dan, tatkala suaminya telah meninggal, Syaikh Hasan Bashri yang begitu tampan, ‘alim, ahli hadits, ahli tafsir, mujahid dan masih sangat banyak gelar yang layak beliau sandang. Beliau datang sendiri untuk meminang. Bukan mengirim utusan. Beliau utarakan keinginan beliau untuk menikahinya. Rabiah menjawab, jawablah empat pertanyaanku, baru aku mau menikah. “Apa itu?” “Apakah aku ahli surga atau ahli neraka?” “Aku tidak bisa menjawab,” kata beliau. “Tatkala catatan amal dibagikan, ada yang menerima dengan tangan kanan, ada yang dengan tangan kiri, dengan tangan mana aku akan menerima catatan amalku?” “Aku tidak bisa mengatakan apa-apa,” kata beliau. “Saat amalku ditimbang, apakah kebaikanku lebih banyak ataukah dosaku yang lebih banyak?” “Aku tidak tahu.” “Saat orang-orang meniti shirat, ada yang bisa melintas dan ada yang jatuh, bagaimana dengan aku? Apakah melintas ataukah terperosok?” “Aku tidak tahu.” “Kalau begitu biarkan aku membuat persiapan untuk yang empat itu.” Menjelang wafatnya, Rabiah berpesan kepada pembantunya, “Bila aku mati, jangan diumumkan. Cukup beri tahu tetangga. Dan jadikan kain usang yang selalu saya gunakan untuk beribadah kepada Rabbku sebagai kain kafan. Keesokan paginya diberitahulah tetangga-tetangga untuk menurunkannya.
Dan ini tidak berat, yang berat adalah kita dengan banyaknya dosa-dosa. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, kita ini penuh dengan dosa, dahi kosong dari sujud pada Allah, mata kosong dari rasa malu, telinga dipenuhi dengan racun-racun musik, yang tidak memperhatikan kebaktian pada orang tua, yang menyia-nyiakan kewajiban pada isterinya, yang menyia-nyiakan kewajiban pada suaminya. Orang seperti kita inilah yang akan menjadi beban bagi bumi. Malam harinya pembantunya bermimpi bertemu dengan Rabi’ah, kemudian bertanya, “bagaimana keadaanmu?” kemudian bercerita, “Munkar nakir datang kepadaku, dan bertanya, “Man rabbuki?” maka aku menjawab, “Subhaanallah, dzat yang 40 tahun tidak pernah aku lupakan, kemudian aku dimasukkan kedalam tanah empat hasta ini, akankah aku lupa padanya?” Kemudian malaikat berkata, “Ya sudah, untuk apa ditanya lagi”.
Maka seperti itulah hendaknya kita mencari kematian. Janganlah kita hidup mengikuti wanita-wanita zaman sekarang. Pada saat ini orang-orang sibuk berlarian hidup dengan berkiblat pada orang-orang barat. Yang saya inginkan, bagaimana semuanya ikut kehidupan Fathimah R.ha, ikut kehidupan Khadijah R.ha, bertemu dengan mereka disana. Saya ingin semuanya berkumpul bersama Fatimah R.ha. Dan saya ingin bagaimana laki-laki menjadi pembantu dari Hasan dan Husain pimpinan pemuda-pemuda surga. Nanti di akhirat akan dipisahkan orang-orang yang ikut barat. Berpisahlah kalian. Jangan sampai di dunia kita hidup dengan orang-orang kampung, tapi di akhirat dikumpulkan dengan orang-orang barat:
وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ
Maka orang-orang merasa ketakutan hari itu, jantung pecah. (Yasin: 59)
Seandainya ada kematian, tentulah mereka mati semua. Tapi kematian telah tiada. Maka semuanya diseret. Wanita diseret dari tengkuknya, kemudian laki-laki akan dimasukkan tangan ke dalam rahangnya, ditarik hingga semua keluar. Dibawa, kemudian diseret. Maka laki-laki berteriak-teriak waasyabaabaah-waasyabaabaah, wahai masa mudaku-wahai masa mudaku. Apa yang dikasihani, sedangkan mereka tidak kasihan pada masa mudanya. Dan wanita-wanita akan berteriak-teriak waakhabaayaah-waakhabaayaah, wahai malu, wahai malu. Apa yang dikasihani dengan rasa malu, sedangkan waktu hidupnya tidak punya rasa malu, tidak mau menutupi dirinya.
Maka hadirin-hadirat, yang mulia, jadilah kita ini hamba-hamba Allah, Allah yang telah menciptakan kita. Allah menciptakan kita untuk apa, supaya kita hidup mendapatkan ridha dari Allah Swt. Menyempurnakan perintah-perintah Allah Swt, menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah Swt, kemudian bertemu dengan Allah Swt. Bila menjadikan kehidupan Rasulullah Swt  sebagai kehidupan kalian, maka di dunia bahagia, di akhirat bahagia.Allah Swt  tidak jadikan dunia tempat bersenang-senang, tapi dunia hanyalah sekedar permainan. Ini adalah alat kesenangan yang menipu. Dunia adalah sebelah sayap nyamuk, dunia adalah sarang laba-laba. Orang-orang yang lari mengejarnya adalah orang gila. Dan orang-orang yang melihat mimpinya ini adalah orang-orang yang tidak berakal. Maka orang-orang yang berlomba-lomba memparbesar rumahnya di dunia ini, adalah orang yang paling bodoh. Mengejar dengan susah payah membangun rumah yang akan ia tinggalkan. Dan dia lupa dengan surga yang telah Allah sediakan. Dia mengejar-ngejar sesuatu yang akan dia tinggalkan, lupa pada sesuatu yang abadi. Ini adalah tempat singgah saja.
Semuanya, satu demi satu pergi meninggalkan dunia. Laki-laki kaya mati, perempuan kaya mati, laki-laki miskin mati, perempuan miskin mati, rakyat mati, pejabat mati, pedagang mati, penjual pakaian mati, penjual makanan mati, semuanya satu demi satu akan mati. Kita lihat, kubur makin lama, makin banyak penghuninya. Pasar makin hari berkurang dan dikurangi orang-orangnya. Sehingga akan tiba suatu saat nanti, kita habis semuanya. Seperti apa pun ramainya sebuah pasar, seperti apa pun ramainya sebuah rumah, suatu saat nanti akan sepi…sepi…tidak tersisa kecuali sarang laba-laba dan suara desiran angin. Dan akan tiba lagi suatu masa tatkala laba-laba pun habis, desiran angin pun habis, kita akan menghadap pada Allah SWT. Kita akan ditanya,”Wahai hambaku, apa yang kamu bawa untuk menghadap padaKu?”. Maka jadikanlah cara hidup Rasulullah Swt sebagai cara hidup kita. Tidak ada manusia yang lebih perhatian, yang lebih sayang, yang lebih cinta, melebihi Rasulullah Saw.
Coba, adakah yang 23 tahun lamanya menangis tanpa berhenti? Rasulullah Saw  23 tahun lamanya terus menerus menangis untuk ummatnya. Dan adakah seorang bapak yang susah payah, jerih payah 23 tahun tidak berhenti untuk anaknya? Rasulullah Saw jerih payah, matia-matian berjuang untuk ummatnya. Rasulullah Saw  yang diutus untuk menangisi ummatnya pun, sampai Allah tegur, “Jangan kau menangis sampai seolah-olah kau akan bunuh dirimu sendiri”. Sebagaimana  seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk rajin belajar. Tatkala anaknya berlebihan belajar pun, ayahnya pasti akan mengingatkannya untuk beristirahat.
Kemudian Allah Swt  bertanya, “Wahai kekasihku, apa yang kau tangisi?” “Ummatku Ya Allah.” Begitu sayang beliau kepada ummatnya. Tatkala ke Thaif dan penduduk mengusir beliau, gunung hampir ditimpakan kepada mereka dan beliau sendiri yang menahannya. Mereka mengusir, melempari dan mengejar beliau hingga pingsan berlumuran darah. Diangkat oleh Zaid RA dibawa berteduh di kebun orang kafir yang memusuhi beliau. Kebun itu milik ‘Utbah bin Rabiah yang mengnginkan kematian beliau. Namun begitu parahnya keadaan beliau, orang yang begitu benci pun tatkala melihat keadaan beliau menjadi trenyuh. Tidak mampu menahan air mata. “Wahai Muhammad, apa yang terjadi dengannya?” Dia sendiri yang memetik anggur dari kebunnya. Karena rasa malu saja dia tidak suguhkan sendiri. Dia suruh budaknya untuk menyuguhkannya. Ini seorang kafir musuh keras Rasulullah SAW. pun merasa kasihan pada beliau. Tetapi, bagaimana perlakuan ummat ini kepada beliau? Sunnah dirusak. Acara pernikahan diadakan, adakah yang tanpa iringan suara musik? Bila ditanya, kenapa melakukan ini, maka akan dijawab bahwa ini adalah untuk menyenangkan anak laki-laki atau anak perempuan saya.
Mengapa tidak dipikir, apakah tidak perlu untuk menyenangkan Allah dan Rasulnya? Mengundang paman, kakek, saudara, kerabat, kawan unutk menyenangkan mereka. Kita melakukan berbagai perbuatan untuk menyenangkan mereka. Kita katakan, mengapa tidak terpikir untuk  menggembirakan  Allah yang telah menjadikan anak baginya hingga usianya muda dan dinikahkan pad hari itu? Mengapa tidak terpikirkan untuk menggembirakan Rasulullah SAW. yang dari kampungnyalah kita hidup sebagai manusia. Yang dengan berkah tangisannya kita masih berbentuk manusia. Kalaulah beliau tidak habis-habisan menangis minta pemecahan masalah kita, tidak akan kita temui manusia hari ini di pasar-pasar. Di sana hanya akan kita dapati hewan berkeliaran. Semua orang ingin kita senangkan. Kenapa tidak kita senangkan Allah dan RasulNya?
Iringan pernikahan Fathimah juga diberangkatkan. Beliau juga melakukan pernikahan. Adakah wanita seperti beliau di dunia ini? Di hari kiamat nanti, saat orang akan melewati shirat. Akan diumumkan, “Tundukkan pandangan, Fathimah akan lewat.” Ke arah sanalah aku ingin membawa saudari-saudariku. Saat orang berbondong-bondong menuju ke barat. Dalam pasar di kampung terpencil hijab pun lepas. Ke manakah para wanita pendidik? Para ibu telah mati. Rumah kosong. Kita yang membakarnya dengan kabel dan TV. Dengan  tangan kita sendiri. Saya katakan, jadilah anak-anak Fathimah. Bagaimana proses pernikahannya? Beliau dinikahkan di masjid. Selesai akad, Shahabat Ali RA. berkata, “Ya Rasulullah, Fathimah diberangkatkan ke rumah?” Rasulullah tidak berkata, “Bawakan alat musik, undang group band, buat pawai.”  Kata beliau, “Ya, akadnya kan sudah.” Setelah shalat Maghrib, beliau pulang ke rumah. Fathimah RA. bercerita, “Waktu itu aku sedang melakukan kegiatan seorang putri yang membantu di keluarga. Aku dengar Rasulullah SAW. bersabda, ‘Panggil Ummu Aiman.’” Ummu Aiman adalah budak ibunda Rasulullah SAW. Beliau pernah bersabda, “Siapa yang ingin menikah dengan wanita ahli surga menikahlah dengan Ummu Aiman.” Beliau berkata, “Ummu Aiman, antarkan Fathimah ke rumah Ali.” Inilah pelepasan mempelai wanita. Tanpa disertai ayah. Tanpa disertai ibu-ibu yang ada, Ummahatul Mukminin yang begitu suci. Padahal saat itu ada ibunda Aisyah, Juwairiyah, Ummu Salamah Rha. Wanita-wanita yang tiada tandingnya di muka bumi. Berjalan kaki beliau diantarkan. Pakaian pun tidak diganti. “Beri tahu pada mereka, setelah ‘Isya aku akan datang.” Itulah pemberangkatan pengantin wanita. Tanpa iringan apa-apa, musik atau pun barisan manusia.
Sampai di sana, Ummu Aiman mengetuk pintu. Shahabat Ali RA. keluar. Ummu Aiman RHa. Berkata, jagalah amanat ini. Rasulullah Saw akan datang ke sini stelah shalat ‘Isya.” Inilah pemberangkatan pimpinan para wanita dua alam. Putri Rasulullah Saw  yang paling beliau cintai. Putri yang beliau beritahukan, “Kaulah yang pertama kali menyusulku dari kalangan keluarga.” Putri yang lainnya beliau berangkatkan sendiri. Saat hampir wafat, shahabat Ali RA. sedang keluar. Beliau katakan kepada pembantunya, “Siapkan air panas untuk mandi. Letakkan dipan di tengah rumah. Hadapkan ke kiblat.” Setelah mandi, beliau berbaring dan berpesan, “Sampaikan pada suamiku bahwa aku sudah mandi, dengan baju ini kuburkan aku.” Sehari sebelum wafat, beliau berkata pada Asma bintu Umais, “Tolong usahakan supaya jenazahku nanti tidak terlihat bentuknya saat dibawa.” Beliau tidak ingin nantinya ada yang mengatakan bahwa putri Nabi orangnya gemuk, atau kurus, atau jangkung, atau pendek. Padahal ruh telah lepas dari badan. Dan tidak ada aturan hukum untuknya. Itulah yang saya inginkan. Jadilah putri orang-orang yang setelah mati pun tetap nampak rasa malunya. Asma Rha. Menjawab, “Waktu hijrah di Ethiopia aku melihat bila wanita meninggal maka di atas ranjang untuk membawa jenazahnya diletakkan kayu melengkung dan diselimuti dengan kain (seperti keranda di Indonesia). Sehingga tidak diketahui bagaimana bentuk fisik jenazahnya.” Fathimah Rha. Berkata, “Bagus. Buatkan seperti itu untukku.” Dengan penuh rasa malu seperti itulah beliau meninggalkan dunia. Sebab beliau menuju maqam yang sangat tinggi.
Kemarilah, menuju kebahagiaan, kemuliaan. Islam telah menyiapkan derajat yang mulia untuk wanita dalam Islam. Tanggung jawab mencari nafkah dibebankan kepada suami. Kemudian dalam nikah ada mahar. Tahukah kita apa maksud mahar. Berapa pun mahar, puluhan juta, ratusan juta, ataupun milyaran rupiah tidak bisa menjadi harga seorang wanita. Dan tidak sah nikah tanpa mahar. Mahar adalah pertanda bahwa wanita itu menjadi tanggungan lelaki sampai mati. Wanita itu akan tinggal di rumah, makan dari jerih payah suami. Orang-orang Arab punya kebiasaan untuk tidak memberi bagian warisan kepada wanita. Dan zaman sekarang pun masih banyak daerah yang berbuat demikian. Warisan tanah yang menjadi hak wanita akan disiasati oleh saudaranya sehingga dibalik dengan namanya. Orang-orang yang melakukan kezaliman seperti ini kepada saudarinya atau anaknya tidak akan bisa menyelamatkan diri dari siksa kubur. Walaupun dia ahli shalat, ahli puasa, ahli dzikir, ahli Al Quran, menyumbang madrasah, pergi bertabligh, pergi haji dan kebaikan lainnya. Dia mati dalam keadaan mengingkari satu bagian besar Al Quran. Tidak ada yang bisa melindunginya dari siksa neraka. Dia akan dihimpit di kuburnya. Suara himpitan kubur yang dideritanya terdengar mulai dari bumi belahan timur hingga barat.
Saat penguburan Zainab putri Rasulullah Saw yang tertua, beliau nampak sedih. Keluar dari liang lahat nampak cerah wajah beliau. Sahabat bertanya tentang hal itu. Beliau menjawab, “Aku sangat khawatir dengan keadaan putriku. Lalu aku memohon pada Allah untuk menyelamatkan putriku dari himpitan kubur. Allah menyelamatkannya dari himpitan kubur.” Bila tidak, sekali kubur menghimpitkan dindingnya akan terdengar dari timur hingga barat.
Kubur bukanlah gundukan tanah. Kehidupan baru akan mulai. Pahala dan siksa akan dimulai.
Ini bukan pembicaraan saya. Saya hanyalah kurir yang menyampaikan pesan dari Allah dan RasulNya. Kebiasaan di tempat kita, bila orang kaya mengirimkan sesuatu dia akan menyuruh buruhnya. Dan oarang yang menerima kiriman akan memberikan hadiah kepada buruh itu sesuai derajatnya. Saya datang seperti buruh yangmenyampaikan pesan itu. Tapi bukan uang yang saya minta. Yang saya inginkan hanyalah, yang hadir di sini meninggalkan majlis sebagi putri-putri Fathimah. Bukan sebagi penentang-penentang Allah. Kembalilah kepada Allah. Bertaubatlah. Berjalanlah menuju kemulian. Kesuksesan, kebahagiaan. Tidak ada kehidupan bagi wanita yang tidak menutup auratnya.
Saya cari nama wanita di dalam Al Quran mulai ayat pertama hingga terakhir. Sekali, dua kali, sepuluh kali, seratus kali saya cari. Tidak ada nama wanita disebutkan di dalam Al Quran selain nama Maryam. Setiap wanita disebut dengan nama suaminya: istri Aziz, istri Fir’aun, istri Nuh, istri Luth. Bisa  saja Allah menyebut nama Asiyah, seorang wanita yang shalihah. Bisa Dia sebut nama Zulaikha, istri seorang gubernur yang penggoda. Hanya nama Maryam yang Dia sebut. Itu adalah untuk menjelaskan bahwa ‘Isa AS. bukan putra Allah Swt  tetapi putra Maryam. Dalam banyak sekali ayat Allah Swt  sebutkan ‘Isabnu Maryam. Ulama ahli tafsir menulis bahwa Allah SWT. tidak menyukai nama wanita dimunculkan, lalu bagaimana wanita dibuka penutupnya dan keluar ke mana-mana? Bagi orang muslim, nama wanita adalah malu untuk disebutkan. Nama istri seorang muslim ditutup. Nama putri seorang muslim ditutup. Kulit delima diletakkan di luar, kulit pisang diletakkan di luar, kulit buah-buahan dibiarkan di luar. Tapi isi buah pisang, isi buah delima dan buah-buah lainnya tidak ada yang dibiarkan di luar.
Kenapa para wanita ingin meniru kehidupan barat? Di sana wanita tidak diterima sebagai ibu, sebagai anak, sebagai istri, sebagai saudari, sebagai nenek. Yang diterima hanyalah sebagai pasangan kencan. Diterima selama masih bisa dinikmati. Tatkala itu hilang, ditinggalkan. Lelaki sangat tidak setia. Lebih mudah mengingkari janji dari pada wanita. Mengobral bicara seperti burung beo. Sedangkan wanita oleh Allah Swt diberi bakat untuk setia lebih daripada lelaki. Di sana, wanita diperlakukan seperti sapu tangan. Untuk menyeka keringat, setelah tidak terpakai lagi dicampakkan. Hanya sebagai pasangan kencan. Lalu ke mana anak putri, ke mana ibu, kemana saudari?
Allah Swt memberikan kepada kita agama yang begitu indah. Terkadang orang-orang yang bodoh menganggap kelahiran bayi wanita sebagai musibah. Lalu marah-marah bahkan menyiksa istrinya. Apakah tidak melihat bahwa keturunan Rasulullah Saw yang pertama adalah wanita, Zainab R.ha? Lalu Ruqayyah R.ha? Rasulullah Saw  sampaikan bahwa seseorang yang diberi anak perempuan dan menerimanya dengan gembira, maka wajib surga untuknya. Dan seseorang yang memiliki tiga orang anak perempuan dididik dengan baik hingga dinikahkannya, maka antara dia dan Rasulullah Saw  adalah seperti antara jari telunjuk dengan jari tengah. Seseorang bertanya, “Kalau dua orang anak perempuan?” “Bila seperti itu dia pun akan seperti itu dekatnya denganku,”  jawab beliau. “Bila hanya satu putri Ya Rasulullah?”  “Bila seperti itu dia pun akan seperti itu dekatnya denganku.” Lalu bagaimana yang tidak punya anak perempuan? Rasulullah Saw beritahukan bahwa  “Barangsiapa yang memiliki dua anak perempuan atau dua sudari dalam keadaan kekurangan dan dia rawat hingga berkecukupan atau meninggal, maka wajib surga baginya.” Hari ini saudari haknya diambil.  Setelah meninggalnya ibu tidak ada yang bisa menggantikan. Hubungan persaudaraan tidaklah murah, pecah hanya karena beberapa rupiah. Bahkan Rasulullah Saw  anjurkan supaya tetap menafkahi mereka walaupun mereka telah menikah, dan surga wajib baginya.
Allah SWT. dalam Al Quran tentang waris tidak memberikan jawaban tentang bagian wanita, bahwa bagian wanita adalah setengah bagian laki-laki. Tetapi Allah menjawab tentang bagian laki-laki, seolah-olah bagian laki-laki ini diragukan berapa besarnya, dapat atau tidaknya.  Allah Saw menjelaskan bahwa laki-laki juga mendapat bagian, bagian  dua wanita itulah bagian satu laki-laki. Maka bila orang tidak memberi bagian pada wanita, binasalah dia. Dan tidak ada yang bisa menyelamatkan. Di sini Allah Swt  menetapkan bagian wanita, lalu memerintahkan  suami untuk mencari nafkah. Menjadikan suami dalam penunaian hak lebih utama daripada istri. Ini bukan keutamaan derajat, tetapi keutamaan dalam hal pengaturan saja.  Lelaki seluruh dunia, adakah yang melebihi Fathimah R.ha, atau Rabiah Adawiyah?
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
Ini bukanlah kelebihan derajat. Di hari kiamat, lelaki manakah yang berani berhadapan dengan Aisyah Ummulmukminin? Dalam Al Quran Allah Swt  mendahulukan penyebutan hak wanita daripada lelaki.
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
”Bagi mereka (para wanita) hak atas lelaki sebagaiman kewajiban atas mereka sebagai hak lelaki….(Al Baqarah: 228)
Dalam ayat lain berfirman
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan pergaulilah mereka (istri kalian) dengan baik.” (An Nisa: 19).
Dan Rasulullah Saw  bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Yang terbaik di antar kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
Baru kemudian dijelaskan kewajiban wanita pada suami. Seorang wanita datang bertanya, “Ya  Rasulullah, kedua orang tuaku akan menikahkanku. Apakah kewajibanku pada suami?” Rasulullah Saw  menjawab, bila kau temui suamimu dengan luka memenuhi tubuhnya mulai kepala hingga kaki semuanya memancarkan nanah, lalu kau bersihkan nanah itu dengan lidahmu, seperti itu pun belum menunaikan haknya atasmu.”
Apa yang terjadi saat ini? Gara-gara masalah kecil, istri terkena marah. Karena masalah sepele, istri dipukul, istri ditampar. Padahal Rasulullah Saw di rumahnya biasa menyapu sendiri. Dengan tangannya beliau buat adonan roti diserahkan pada Aisyah, atau Juwairiyah, atau Ummu Salamah untuk dijadikan roti. Dan beliau biasa mencuci baju beliau sendiri. Padahal memiliki sembilan istri, tetapi baju beliau cuci sendiri. Beliau di rumah banyak senyum dan tawa :
كان – صلى الله عليه وسلم – ضحَّاكاً بسَّاماً
Di luar rumah selalu berfikir dan sedih. Seperti itulah Allah buat fitrah wanita, digembirakan kemudian diberi tugas. Mendidik anak menjadi pengikut-pengikut Rasulullah Saw. Mendidik anak laki-laki samapai 15 tahun, peremoauan samapai 11 tahun. Bila tiba saat pernikahan, berangkatkan dari rumah sebagai pengikut Rasulullah Saw  dan sebagai peniru Fathimah R.ha. Hari ini para wanita lalai dari pendidikan. Hendaklah kita jadikan kehidupan Rasulullah Saw  sebagai kehidupan kita.
Adanya ummat ini pun  dari seorang ibu. Lima ribu tahun yang lalu kisah ini bermula. Memang susah untuk melihat masa lalu. Apalagi lima ribu tahun. Siapa yang akan melihat. Di Makkah Mukaramah. Putri raja Mesir, umur 20-22 tahun. Anak dalam pangkuan. Berpisah denga suami adalah pengorbanan besar bagi seorang istri. Apalagi suami seperti Nabi Ibrahim AS. Dan ini bukan di rumah, di tengah padang pasir, tentu lebih menyedihkan lagi. Tanpa bekal yang cukup, lebih menyedihkan lagi. Tidak ada yang menghibur, kesedihan lebih lagi. Dari pangkuan Ibunda Hajar ummat ini lahir. Ummat Rasulullah Saw  keluar dari pangkuan beliau. Dan sedemikian hebat beliau mendidik Ismail AS sehingga pada umur kira-kira 8 tahun Nabi Ibrahim AS bertanya, “Wahai anakku, dalam mimpi aku melihat bahwa aku akn menyembelihmu. Bagaimana menurutmu?” Mestinya, waktu itu Ismail AS menjawab, “Wahai ayah, itu kan kau lihat dalam mimpi. Apa salah saya?” Lihatlah anak kita,baru disuruh mengambilkan air minum sudah ke sana-ke mari bicaranya.
Ini kita lihat bagaiman Ibunda Hajar menyiapkan putranya. Dan itu adalah saat pertama kali Ismail AS melihat ayahnya. Betapa gembira anak melihat ayahnya. Di Mina percakapan itu terjadi. Ismail AS tidak membantah. Bahkan ia panggil “Yaa Abati.” Saya benar-benar keheranan dengan kata ini. Seorang anak disuruh melakukan kerja kecil saja, dia terkadang mengatakan, “Apa sih Ayah ini,” dengan nada keberatan dan pahit. Sedangkan ini, Ismail AS menjawab “Ya Abati.” Ini adalah panggilan sayang dan kegembiraan. Nampak oleh saya bahwa saat itu ia sangat gembira mendengar perkataan ayahnya. Seperti gembiranya mendapatkan sesuati yanglam dicarinya. Seolah dia katakan, ”Wahai Ayah, aku akan dikorbankan utnuk Allah Swt ? Silakan lakukan. Inilah yang kuinginkan. Inilah yang kuinginkan.” Ibnu Qudamah meriwayatkan bahwa tatkal ditanya pendapatnya, Nabi Ismail AS menjawab, “Bila engkau menyembelihku aku akan mendapakan mendapatkan Allah Swt yang pasti lebih baik daripada engkau. Mendapatkan surga yang lebih baik daripada dunia.” Kemudian beliau melepas gamisnya dan berpesan agar diberikan kepada ibunya. Agar melihatnya bila rindu kepada anaknya. Sebab tidak ada pertanda apa pun pada ibunya untuk mengenang anaknya. Dan meminta supaya gamis Nabi Ibrahim AS dijadikan kafannya. “Ikatlah kakiku, ikatlah tanganku. Baringkan aku pada dahiku.”
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (Ash Shaffat: 103).
Maka seperti kambing yang akan disembelih, kaki diikat agar tidak berontak, tangan diikat agar tidak melawan. Badan ditelungkupkan. Tangan kiri menggenggam rambut Ismail AS, tangan kanan memgang pedang untuk menyembelih. Beliau berkata, “Wahai Tuhanku, bila ini engkau perintahkan karena kemurkaanMu sebab Ismail kadang terlintas dalam hatiku, dengan ini jauhkanlah kemurkaanMu. Dan bila ini karena Engkau mengujiku, sukseskanlah aku dalam ujian ini.” Beliau sayatkan pedang ke leher putranya. Malaikat langit menjerit. Kalimat Nabi Ibrahim AS mengoyak hati mereka. Andaikan Mina bisa bersuara, tentulah ia akan berteriak menangis.
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (Ash Shaffat: 103-104)
“Bagus…bagus… terbukti bahwa hatimu hanya untukKu bukan untuk yang lain.” Sukses dalam ujian. Seperti ini ibu yang kita cari. Permata seperti inilah yang telah lama hilang. Permata ini yang sedang kita cari. Barang kali terselip bisa diambil dijadikan kalung yang menghias leher ummat. Bila anak dididik dalam pangkuan yang subur, akan muncul lentera dan matahari hidayah.
Abdullah bin Zubair RA bersama delapan belas orang terjebak dalam kepungan tiga ribu pasukan Hajjaj bin Yusuf. Beliau mendatangi ibunya, Asma binti Abu Bakr RA. “Ibu, Hajjaj menawarkan perdamaian padaku, bila aku terima, selamat nyawaku. Bagaimana nasehatmu?” Ibunya menjawab, “Putraku, bila dengan peperangan ini, dunia yang kau cari, binasalah dirimu dan kawan-kawanmu. Dan bila akhirat yang kau cari, jangan terima perdamaian. Hidupmu adalah kemuliaan dan matimu pun kemuliaan.” Beliau menjawab, “Ibu, memimpikan dunia pun sampai sekarang aku tidak pernah, bagaimana mungkin aku mengangkat pedangku untuk dunia?” “Anakku, ini adalah pertemuan terakhir kita.” Mereka berpelukan. Saat itu Asma R.ha merasakan ada besi di balik baju anaknya. “Anakku, apa ini?” “Aku tidak mau setelah kematianku mereka mencincang tubuhku,” jawab beliau. Asma R.ha berkata, “Bila kambing sudah disembelih, ia tidak akan takut sakitnya dikuliti.” Ibu memberangkatkan anaknya menuju kematian. Sang ibu sendiri yang melepas baju besi. Beliau berangkat. Dari pagi sampai sore dengan pedang di kedua tangan beliau bertarung bersama delapan belas orang menghadapi tiga ribu pasukan. Tidak ada musuh yang bisa mendekati mereka. Menjelang Ashar, dari gunung Abu Qubais musuh membidikkan batu besar ke arah beliau. Beliau jatuh tersungkur sambil membacakan sair, “Kami bukanlah kaum yang menghiasi tumit  dengan darah punggung kami. Tetapi kami adalah kaum yang mewarnai cakar kami dengan darah dari dada kami.” Begitu besar batu itu, Abdullah RA jatuh tersungkur. “Wahai ibu, jangan kau tangisi aku.” Seperti itu ibunya, begitulah anaknya.ibu seperi inilah yang kita cari. Tapi itu pasti bukan ibu yang terbiasa denga nyanyian. Itu pasti bukan ibu yang tanpa hijab berkeliaran di pasar. Pasti itu adalah ibu yang selalu menutup rapat auratnya. Pasti itu adalah ibu yang selalu tinggal di rumahnya sebagi putri Fathimah R.ha dan budak Rasulullah Saw. Kalaupun keluar rumah, tiap langkahnya akan mendekatkannya kepada Allah Swt.
Rasulullah Saw  menangisi kita bertahun-tahun lamanya. Kita malah membinasakan diri dalam dunia. Di Arafah, lima jam beliau berdoa untuk ummat. Duduk di atas onta yang tak kenal istirahat. Di bawah teriknya matahari bulan April. Terkadang beliauangkat tangannya ke arah langit. Terkadang beliau letakkan pada dada. Terkadang bila onta bergerak-gerak, satu tangan memgang tali kekang. Bila sudah tenang kembali kedua tangan beliau angkat ke atas. Beliau hanya berdoa untuk ummat saja. Buka untuk anak dan keturunan beliau. Padahal beliau sudah mendengar kabar musibah yang akan menimpa keturunan beliau. Beliau peluk cucu beliau Husain RA dalam pangkuan sambil menangis lama. Salman RA yang melihat kejadian itu bertanya. Beliau menjawab, “Baru saja Jibril AS mendatangiku dan memberi kabar bahwa cucuku ini akan dibunuh oleh ummatku. Dinampakkan padaku bagaimana mereka menumpahkan darah.” Enam belas orang keluarga Husain RA dibantai dan dipotong-potong. Ditambah lima orang saudara seayah beliau. Tujuh puluh dua kepala dipenggal. Terakhir, Abdullah, anak kecil yang tidak berdosa pun dibunuh juga. Sedangkan para wanita ditawan dibawa oleh pasukan ibnu Ziyad. Takala mereka melewati kepala yang bertebaran, salah seorang berkata, “Wahai Muhammad, wahai Muhammad, ini Husain dipenggal kepalanya, bertebaran anggota tubuhnya. Keturunan laki-lakimu dibunuh. Dan putri-putrimu dijadikan tawanan.” Mendengar itu, semuanya menangis. Musuh pun menangis. Pembantaian yang akan menimpa keturunan beliau tahan. Tapi untuk ummat merengek-rengek beliau memohon.
Rabiul Awwal tiba. Saatnya beliau meninggalkan dunia. Datang malaikat Jibril AS berkata, “Ada satu malaikat lagi, besar, menunggu di luar. Belum pernah datang sebelumnya, dan tidak akan datang lagi selamamnya. Malaikat maut minta izin padamu untuk masuk.”  Betapa tingginya derajat Nabi kita, malaikat maut pun minta izin dulu sebelum masuk ke dalam rumahnya. “Masuklah,” kata beliau. Izrail AS berkata,”Ya Rasulullah, sejak aku ditetapkan sebagai malaikat maut,  ini pertama kali Allah berfirman padaku, ‘Mintalah izin. Bila diizinkan masuklah. Bila tidak, kembalilah. Tanyalah dulu, akan pergi atau akan tinggal. Bila memilih tinggal, kembalilah.’” Rasulullah Saw  bertanya kepada Jibril AS, “Apa pendapatmu?” “Ya Rasulullah, Allah Swt  rindu untuk bertemu denganmu.” “Benarkah? Tapi aku tidak bisa pergi sebelum kuselesaikan urusan ummatku.” Jibril AS pergi, Izrail AS diam menanti. Sebentar kemudian datang dan berkata, “Allah Swt  berfirman bahwa ummatmu tidak akan dibiarkan sendirian.” “Sekarang, sudah tenang hatiku,” kata beliau. Andaikan bukan karena jerih payah beliau, tentulah kita ini sudah menjadi hewan yang berkeluiaran. Pahamilah, hargailah tangisan beliau untuk ummatnya. Untuk keturunan beliau pun beliau tidak berdoa seperti itu.
Belaiu bersabda kepada malakul maut, “ Lakukan tugasmu!” Jibril AS berteriak, “Ya Rasulullah, begitukah keputusanmu? Berarti,inilah kali terakhirku datang ke dunia. Silsilah wahyu berakhir sudah.” Tatkala Izrail AS mulai mengambil ruh beliau, shahabat Ali RA yang memegang tubuh beliau berkata, “Ya Rasulullah, tidak ada kematian di dunia ini seperti kematianmu. Andaikan engkau tidak  memerintah kami untuk bersabar, tentulah kami akan tunjukkan pada dunia, bagaimanakah menangis itu? Tentulah dunia akan melihat, seperti apakah yang namanya bersedih.” Di akhir nafas, beliau berpesan kepada ummat, “Janganlah ummatku meninggalkan shalat. Dan perhatikan hamba sahaya kalian.”  Hari ini berapa banyak wanita bertenbaran di pasar meninggalkan shalat? Anak-anak muda nongkrong, berapa yang shalat? Dan pesan yang kedua, apa maksudnya? Berbuat baiklah pada orang miskin, pada bawahan, pada para pembantu. Mereka juga orang mukmin. Mereka pun punya keluarga. Punya anak. Punya ibu. Jangan sampai karena kesalahan-kesalahan kecil kita berlaku kasar pada mereka. Itulah pesan terakhir Nabi kita. Dan tatkala suara beliau makin lemah, beliau bersabda, “Shalat, shalat,shalat. Allahumma ma’arrafiqil a’la.” Beliau wafat. Ibunda ‘Aisyah R.ha menjerit. Mendengarsuara jeritan dari dalam rumag Rasulullah r  terjadi keributan di luar. Umar RA segera menghunus pedangnya dan berkata, “Awas, barangsiapa mengatakan bahwa Rasulullah SAW  telah wafat, kupenggal lehernya. Beliau hanya pergi uintuk bermunajat kepada Allah sebagaimana Musa AS bermunajat. Beliau akan kembali.” Abu Bakar RA datang, langsung masuk ke dalam rumah dan membuka selimut Rasulullah Saw. Beliau cium kening beliau Saw, menangis sambil berkata, “Wahai Nabi, wahai Kekasih, wahai belahan jiwa.” Dengan tenang beliau melangkah ke dalam masjid. “Duduk!”kata beliau pada Umar RA. Umar RA dengan tegas menolak, “Saya tidak akan duduk.” Abu Bakar RA naik mimbar dan berkhutbah, “Wahai manusia, barangsiapa menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Hidup dan Kekal. Lalu beliau bacakan firman Allah Swt :
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ (Ali Imran: 144).
Mendengar itu, UmarRA jatuh tersungkur. “Seolah ayat itu baru hari itu diturunkan,” kata Umar RA. Di hari berkabung itu, tiba waktu Zhuhur Bilal RA mengumandangkan adzan. Begitu sampai pada kata “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah” suara tersekat. Dua puluh kali diulang. Suara melemah. Madinah gemuruh dengan dengan suara tangis. Para wanita tidak mampu menahan suara mereka. Begitu turun, Bilal RA mengatakan, “Mulai hari ini  aku tidak akan adzan lagi.”
Musafir yang menangisi ummat telah pergi. Di saat kepergiannya pun ummatnya yang dipikirkan. Dan setelah kematiannya pun ummatnya yang dipikirkan. Imam Al Atabiy, Annawawi, Ibnu Katsir meriwayatkan kisah: Al Atabiy berkata, “Takala aku duduk di dekat kubur Rasulullah Saw seorang badui datang ke kubur Rasulullah Saw  dan membaca ayat:
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Aku datang dengan memohon ampun atas dosaku dan meminta syafaat padamu pada Rabbku. Lalu membaca bait sair:
يا خيرَ من دُفنَت بالبقاع  أعظُمُه … فطاب منْ طيبهنّ القاعُ والأكَمُ
نَفْسي الفداءُ لقبرٍ أنت ساكنُه … فيه العفافُ وفيه الجودُ والكرمُ
Wahai yang dikubur di pelataran yang dengannya tanah menjadi berkah, lambah menjadi berkah, dan gunung pun menjadi berkah.
Aku korbankan diriku kubur yang engkau tempati, di situlah kedermawanan, di situlah kemuliaan, di situlah keluhuran
Dua bait sair ini tertulis di kubur beliau yang mulia hingga hari ini. Tambah dua bait lagi:
أنت الشفيع الذي ترجى شفاعته … على الصراط إذا ما زلت القدم
وصاحباك فلا أنساهما أبدا … مني السلام عليكم ما جرى القلم
Engkaulah pemberi syafaat yang diharapkan syafaatnya di  atas shirat tatkala telapak kaki tergelincir
Juga kedua sahabatmu tidak akan aku lupakan selamanya, salam dariku untuk kalian selama qalam masih berjalan.”
Sair yang sudah ratusan tahun ini abadi hingga hari ini. Lalu orang badui itu pergi dan Imam Al Atabi tertidur. Beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw yang bersabda, “Kejar orang badui itu dan sampaikan padanya bahwa Rabb telah mengampuni dosanya.” Setelah wafat pun masih berjalan bantuan untuk ummatnya. Tidak adakah yang sadar? Tidak adakah yang terguagah? Ini baru di dunia, lihatlah jauh ke depan. Tatkala semua orang mengatakan nafsi…nafsi.. (diriku…diriku…). Suami tidak ingat istri, istri tidak ingat suami. Anak tidak ingat orang tua, ayah dan ibu tidak ingat anak. Adam AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Idris AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Nuh AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Hud AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Shalih AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Yunus AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Musa AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Harun AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Yahya AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi Zakaria AS berkata, “nafsi…nafsi.” Nabi ‘Isa AS berkata, “nafsi…nafsi.”
Tapi ada satu pribadi yang berbeda dengan lainnya, yang berseru Ya Allah ummatku,  ummatku. Padahal semua Nabi memikirkan diri masing-masing. Ibu memikirkan diri masing-masing. Nabi kita tetap setia memikirkan ummatnya. Maka mengapa kita ingkari beliau? Mengapa kita khianati beliau? Mengapa kita durhakai? Tidak adakah orang lainnya? Maka segeralah bertaubat, segeralah bertaubat. Sebenarnya saya ingin berbicara singkat, tetapi pembicaraan menjadi panjang. Saya tidak tahu kapan bertemu lagi dengan majma seperti ini? Orang mengatakan kita gila, mondar-mandir meninggalkan keluarga. Bukan sembarang gila, tetapi kengerian pemandangan akhirat membuat kita lupa. Membuat kita gila. Kengerian kematian membuat kita melupakan segala kesusahan. Dan surga serta indahnya keadaan setelah kematian telah membuat kita lupa pada masalah-masalah dunia.
Kita inginkan, Nabi Saw akan menyambut, “Wahai wanit muslimah dari abad lima belas yang telah memperjuangkan perasaan malunya. Tatkala para wanita hidup ala barat, berkeliaran di pasar-pasar, dan kalian menjaga hijab kalian, bangkitlah bersama Fathimah putriku. Betapa indahnya saat itu bila kita berhasil meminum air telaga kautsar yang diberikan dengan tangan mulia Rasulullah Saw  sendiri. Tatkal beliau memeluk ummatnya dari abad 1ima belas. Tidakkah itu menjadi cita-cita kita? Bertaubatlah, bertaubatlah, berangkatkan segera para suami, ayah, anak, saudara empat bulan empat puluh hari bersama jamaah. Dan ibu-ibu juga bentuk jamaah keluar bersama suami, ayah, anak, saudara. Hidupkan amal agama di rumah. Shalat, tilawah Al Quran, pendidikan anak secara Islami, menunaikan hak suami, menunaikan hak istri. Meyiapkan makanan yang halal untuk keluarga. Keluar denga hijab sempurna. Allah Swt tidak melarang wanita keluar rumah. Tetapi bila keluar hendaklah meniru putri Nabi Syu’aib AS yang memanggil Nabi Musa AS. Allah Swt kisahkan bahwa ia datang berjalan di atas rasa malu. Seolah-olah rasa malu itulah kendaraan yang dinaikinya.
Ummu Salamah R.ha bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang lebih utama antara bidadari dan wanita yang masuk surga. Bidadari diciptakan dari kasturi, ambar dan lain-lainnya. Sedangkan wanita dunia diciptakan dari lumpur dan air?” Beliau Saw menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita mukminah yang masuk surg alebih utama daripada bidadari.” “Mengapa wahai Rasulullah?” “Sebab shalat mereka, sebab puasa mereka, sebab ibadah mereka kepada Allah Swt, sebab kitab Allah Swt. Allah Swt  memberikan nur dariNya pada wajah mereka. Kecantikan bidadari redup di depan mereka. Bidadari tinggallah sebagi pemabntu mereka. Bidadari yang membantu mengangkat rambut mereka. Ujung pakaian mereka menjuntai samapai tiga mil jauhnya. Tiga mil. Lama saya berpikir tentang pakaian tiga mil ini. Akhirnya saya mengerti bahwa pakaian penduduk surga terbuat dari cahaya. Sedangkan cahaya tidak ada berat jenisnya. Tiga mil atau tiga ratus mil tidak akan terasa beratnya. Sekali pakai seratus stel setiap stel berbeda corak dan warna. Dan setiap stel memiliki pengaruh kecantikan pada wajah tersendiri. Allah berikan kecantikan pada mereka sehingga suami istri berpandangan empat puluh tahun lamanya tidak ada bosannya.
Maka kita taubat. Semuanya, laki-laki dan wanita taubat. Mengganti arah hidup kita. Kita ini bukan jamaah, jamaah tabligh seperti yang dianggap orang. Kita ingin hidup sesuai dengan kekasih kita. Bila untuk memasak saja kita perlu belajar, dan kita mesti menyempatkan waktu untuk itu. Untuk hidup sesuai denga cara Rasulullah Saw  pun perlu diusahakan. Selain itu, kita punya tanggung jawab untuk menyampaikan agama ke ujung-ujung dunia.Wanita tentukan satu bagian dari rumahnya untuk tempat shalatnya. Laki-laki bagus shalat sunnat di sana. Sedangkan shalat wajib di rumah. Satu waktu ditentukan utnuk taklim bersama-sama. Saling pahami hak dan kewajiban suami istri. Jangan sampai karena kebodohan akhirnya yang terjadi berlebihan. Suami melarang istri untik bertemu orang tuanya. Atau orang tua istri merasa berat untuk melepaskan putrinya. Sehingga setelah pernikahan malah musibah dan kesedihan yang didapati. Ini semua karena kebodohan. Hiasi anak-anak dengan akhlak. Jangan merasa cukup menjadikan anak sebagai dokter, insinyur, pejabat, pedagang. Sudahkah kita jadikan anak kita sebagai manusia.
Ada orang yang Allah Swt  pandang dengan sangat jijik seperti jijiknya kita memandang kotoran manusia. Siapakah mereka? Orang yang merasa gembira dengan mengadu domba. Dia sampaikan pembicaraan dari sana-sini sehingga terjadi pertengkaran. Hidup adalah akhlak. Walaupun tinggal di rumah yang gelap gulita maka akan nampak cahaya rembulan di sana. Dalam pernikahan jangan jadikan harta sebagai ukuran. Jangan lihat berapa mahar yang mampu dia berikan, apa profesinya, apa saja bingkisannya. Yang paling utama, bagaimana akhlaknya. Jagalah tilawah Al Quran, tentukan waktu untuk berdzikir kepada Allah Swt.
Doa ………